Namanya Erik Saputra, dan Ia Ingin Sekolah di Seberang

Namanya Erik Saputra, dan Ia Ingin Sekolah di Seberang

“Eyen kecil sangat suka membaca. Buku apapun ia baca. Namun, kondisi ekonomi membuat Eyen kecil tidak bisa bebas membaca buku yang ia inginkan. Pernah suatu hari, Eyen kecil diusir ketika membaca buku di suatu toko. Eyen kecil sedih, tentu saja. Apa salahnya dengan membaca buku hingga harus di usir? Sejak itu, eyen kecil bertekad, suatu hari nanti tidak boleh ada lagi anak Indonesia seperti eyen kecil. Mereka harus bisa bebas membaca buku”

Saya, tiga detik terdiam sambil mendengarkan, lalu meng-aminkan doa Eyen kecil.

***

Senin, 27 Maret 2017, pukul 06.00 WIB Tim Etape Ogan Ilir bersiap menuju dua sekolah dasar, SDN 04 Desa Sarang Lang Kecamatan Pemulutan Barat dan SDN 03 Desa Cahaya Marga Kecamatan Pemulutan Selatan, keduanya berada di  Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Berjumlah 12 orang dan menggunakan tiga mobil, Tim Bakti Bagi Negeri Etape Ogan Ilir siap mengantarkan 1.086 buku bacaan dari BBN dan 160 bantuan tas sekolah dari Sekar Witel Sumsel. Perjalanan  darat yang hampir 2,5 jam dan 30 menit perjalanan sungai kami lalui dengan bersemangat sambil membahas games apa yang akan kami sampaikan ke mereka.

 

persiapan keberangkatan

Bukun donasi yang akan disalurkan

Jalan yang kami lalui tidak bisa dikatakan bagus,  tanahnya liat berwarna merah, lobang jalan di sana-sini, kanan kiri jalan berjejer pohon pisang yang tidak sengaja tumbuh di tanah rawa yang sepertinya bekas persawahan padi. Jalannya sangat sempit,  jika ada mobil berpapasanan saja, salah satu mobil harus berhenti dan membiarkan mobil lainnya untuk jalan. Saya membayangkan, betapa hanya berjarak 2,5 jam saja begitu berbeda pembangunan negara ini, jika di pusat kota Palembang sedang hiruk pikuk pembangunan Kereta Api cepat dan persiapan megahnya Asian Games 2018, di desa Sarang Lang ini penduduknya masih akrab dengan mandi di sungai dan jalannya yang berlobang.

 

 

Tiba di SDN 04 Desa Sarang Lang, anak-anak menyambut antusias. Semua anak rebutan untuk membantu mengangkat kardus berisi buku, tas sekolah bagi satu-satu. Kami pun dijamu, seperti layaknya tamu dari kota yang datang ke desa. Kepala sekolah dan ketua adat mengucapkan terimakasih tak terhingga atas bantuan buku dari BBN. Harapan mereka, buku-buku baru ini bisa membantu siswa-siswa untuk lebih suka membaca.

Sambutan pengurus Sekar Telkom

Perjalanan di lanjutkan ke SDN 03 Desa Cahaya Marga, setelah 30 menit melalui anak sungai Musi, kami tiba di lokasi. Yang pertama saya tanya kepada guru di sekolah adalah : “maap pak, saya bisa numpang charging HP?” . Bertanya listrik tentu saja, perut boleh lapar karena sudah siang, tapi Socmed harus tetap update berita supaya hati senang.  Sayangnya pertanyaan saya di jawab tegas :

“disini belum ada listrik Bu, apalagi internet, PLN belum masuk ke lokasi sini”.

Saya sedih, makin sedih ketika melihat hampir semua pintu kelas rusak yang konon katanya sering dibobol maling. Bingung juga, mau maling apa lagi mereka di lokasi SD yang udah reyot seperti itu. Belum lagi jendela kelas yang tidak ada kacanya, melihat ke jendela artinya bisa melihat langsung hutan lepas, banyak monyet  katanya di hutan itu.

 

Perjalanan menuju SDN03

 

 

Serah terima buku sudah di lakukan kepada kepala sekolah dan ketua adat, lanjut kelas merah putih. Buku-buku sengaja kami letakkan di luar kelas, anak-anak dipersilahkan untuk mengambil buku yang mereka inginkan. Siswa antusias, setiap tangan berhasil meraih beberapa buku hingga buku habis, lalu mereka duduk di teras kelas. Semua bergumam,suara mereka mengeja huruf di buku, gumam kecil tapi sangat riuh di telinga. Entah kenapa ada harapan mengalir di hati ini. Ahh, teruslah membaca dik, buku-buku itu akan menuntun kalian hingga sukses.

 

Erik Saputra namanya, siswa kelas 4 SDN 03, tempat kami mengirimkan buku. Ketika acara resmi serah terima  dikelas, ia sibuk membanggakan buku tabungan ke temannya, jumlah tabungannya Rp.385.000 yang ditabung selama setahun melalui wali kelas. Moment itu ditangkap oleh salah satu relawan. Di Kelas merah putih, kami uji nyali Erik untuk bercerita di depan kelas menceritakan buku tabungan dan buku yang dia baca. Dia diam, malu sepertinya, berbeda sekali dengan semangatnya bercerita di belakang kelas. Ia mulai bercerita ketika hanya bedua saja dengan relawan.

“Erik cita-citanya mau jadi apa?”

“Mau jadi polisi”

“Nanti kalo SMP mau sekolah di mana?”

“Di seberang (sambil menunjuk ke seberang sungai)”

Obrolan berlanjut sampai akhirnya ia di panggil temannya. Sungguh matanya sangat berbinar menceritakan buku tabungan dan cita-citanya. Mata yang sangat yakin bahwa cita-citanya pasti akan tercapai untuk menjadi polisi. Kami ikut meyakinkan jika ia pasti mampu jadi polisi. Terus membaca ya dik, lihat dunia lewat buku. Supaya erik dan teman-teman erik punya cita-cita yang makin tinggi, mampu menyebutkan kota yang berada di seberang bukan hanya menyebutnya “daerah seberang”, bercerita dengan penuh percaya diri di depan kelas dan orang banyak, sekolah tidak hanya di seberang desa, tapi juga di seberang negara. Ada namanya negara Amerika di sana yang lebih besar lagi, dik.

 

Kelas merah putih selesai, semua anak-anak senang, bersemangat sekali mereka kembali membaca buku, bahkan ada beberapa siswa yang menanyakan apakah boleh buku tersebut di bawa pulang 🙂

Balik lagi ke eyen kecil, eyen kecil inilah yang saat ini menjadi inisiator Program Bakti Bagi Negeri, menjadi salah satu relawan, ikut membagi buku dan mewujudkan satu persatu mimpi-mipi anak negeri lewat buku. Eyen kecil sekarang sudah bisa menularkan semangatnya kepada anak-anak negeri. Tidak ada kata tuk berhenti, tekad itu masih menyala, tekad menebar buku berkualitas bagi anak-anak di pelosok negeri. Untuk melihat senyum mereka yang lebih cerah, secerah warna-warni buku yang kami antarkan.

 

Ditulis oleh : Ledy Caroline, Relawan BBN Sumsel

Foto oleh : Tim Dokumentasi BBN

Semangat dari Aenganyar

Semangat dari Aenganyar

Pagi ini kami sudah mendarat selamat di Gili Genting (Kecamatan Gili Genting terletak di Kabupaten Sumenep, Madura) setelah berlayar selama 30 menit dari Pelabuhan Tanjung 1, Saronggi ke Dermaga Bringsang 2, Gili Genting.

DSC_0287
Bongkar muat di Gili Genting

“Vrooom, vroom, vroom….” mobil Pickup yang kami naiki mulai mogok, mungkin mesin tuanya sedikit lelah mengangkut kami.

Mobil Mogok bukan menjadi penghalang semangat kami. Tetap dengan wajah sumringah dan saling memandang. Terbayang wajah adik-adik yang sudah menunggu kami. Sekolah Dasar yang menjadi target Kami adalah SDN Aenganyar 1, Kecamatan Gili Genting.

Perjalanan menuju lokasi sekolah
Perjalanan menuju lokasi sekolah

Tepat 08.30 WIB Saya, Mbak Puteri, Nadine, dan Riyan menginjakkan kaki di halaman SDN Aenganyar 1. Dan apa yang menyambut kami? Ya kerumunan anak-anak yang mengulurkan tangan dan menarik tangan kami untuk mereka salami. Luar biasa, kami disambut dengan penuh hormat dan kasih sayang. Jumlah Murid di SDN ini adalah 304 siswa. Jika dilihat dari depan, bangunan sekolah ini memang bagus, maklum saja bagian depan baru direnovasi. Tetapi jika kita masuk lebih dalam, maka masih ada beberapa kelas yang kurang layak, selain itu juga jika hujan melanda, maka tidak jarang lorong kelas tergenang air. Perpustakaan? Ada, tapi bukunya? Hanya ada beberapa buku paket pelajaran. Buku cerita anak? Jangan ditanya, masih belum ada. Untuk itu Telkom, Sekar Telkom, dan Relawan BBN ada, karena tekad kami adalah mendedikasikan sebagian hati, pikiran dan langkah kami untuk membantu mencerdaskan anak-anak di pelosok negeri melalui Gerakan Bakti Bagi Negeri untuk Anak-anak Indonesia.

Sar 21
Kondisi salah satu ruangan di SDN 1 Aenganyar

 Anak-anak yang penuh semangat tadi secara tidak langsung membuat kami makin bersemangat untuk ikut berbagi semangat membaca dan belajar. Bukan mereka saja yang belajar tetapi ternyata kami juga, sebenarnya kamilah yang banyak mendapat ilmu dalam BBN Etape Madura kali ini. Bagaimana mereka dengan polos, tulus, ceria, dan semangatnya mengikuti pola-pola yang sudah kami rancang.

Di samping pemberian bantuan buku, Telkom juga melalui program Employee Volunteer Program dari CDC (Community Development Centre) juga ikut berkolaborasi dengan BBN untuk memberikan paket lengkap perangkat komputer, proyektor, dan peralatan olahraga bagi Sekolah SDN Aenganyar I. Perlu diketahui SDN Aenganyar I merupakan SDN Gugusan di Gili Genting, jadi di beberapa waktu sering diadakan pelatihan bagi guru-guru di SDN desa lain di SDN ini.

Di SDN Aenganyar, penyerahan bantuan 500 buah buku, paket lengkap perangkat komputer, proyektor, dan peralatan olahraga secara simbolis telah diserahkan langsung oleh GM Witel Gresik-Madura Wasito Adi didampingi ketua DPD Sekar Gresik Supriyadi, Kakandatel Sumenep Djodi Supriatno, Korlap BBN Etape Madura Sartika, dan perwakilan DPW 5 Sekar Jatim Budi Utomo kepada Kepala Sekolah SDN Aenganyar I Abdul Kadir. Hadir juga Kepala UPT Pendidikan Gili Genting , Yanto Winarjo. Selesai sambutan dan penandatanganan Berita acara serah terima buku dan perlengkapan komputer, dilanjutkan dengan Kelas Merah Putih.

Penyerahan bantuan secara simbolis
Penyerahan bantuan secara simbolis
Penyerahan buku secara simbolis
Penyerahan buku secara simbolis

Kelas Merah Putih dibuka, sesuai dengan judul kelasnya maka anak-anak dibekali bendera merah putih ditangannya. Bertujuan untuk menambah kecintaan anak bangsa terhadap identitas negara Indonesia. Penyampaian Materi Internet sehat dan Pentingnya membaca pun menjadi topik pada pagi hari ini. Ternyata saat dilempar pertanyaan siapa yang suka membaca? Semua tak ragu untuk tunjuk tangan. Luar biasa, mereka begitu bersemangat.

Pembukaan Kelas Merah Putih
Pembukaan Kelas Merah Putih

Mengapa BBN memilih buku? Karena buku adalah salah satu alat paling jitu untuk menjadi cerdas dan bermartabat. Mungkin saat ini memang anak-anak polos itu belum terlalu berpikiran menjadi orang yang sebesar apa mereka kelak, tapi bagi kita, maka itu adalah ikut menjadi tanggung jawab, karena kelak Nasib Bangsa Indonesia ini ada di tangan mereka, tangan-tangan yang sekarang mungkin masih gemulai hingga nanti kelak akan kokoh menanggung tanggung jawab untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Berlanjut ke agenda selanjutnya adalah kita akan mengajak mereka sedikit bermain. “Puzzle Harta Karun”, mereka harus menyusun Puzzle yang sudah diacak menjadi gambar utuh, setelah gambar sudah terbentuk sempurna, maka adik-adik harus bersegera menuju lokasi yang ada di gambar tersebut. Kenapa? Karena di sana lah harta karun itu tersembunyi.

Suasana saat mengikuti permainan memecahkan puzzle
Suasana saat mengikuti permainan memecahkan puzzle

Dan yak!!. Harta karun berhasil ditemukan dan diangkut. Ternyata Buku yang diidam-idamkan adik-adik sudah di depan mata. Segera setelah itu, mereka yang ikut serta dalam memecahkan gambar puzzle mendapatkan hadiah sebagai apresiasi dan penambah semangat. Ada 500 Buku yang akan menjadi sumber ilmu dan inspirasi bagi adik-adik di sini. Buku-buku , itupun dibagikan kepada adik-adik. Begitu semangatnya mereka.

Salah satu siswa tampak menikmati bacaan barunya
Salah satu siswa tampak menikmati bacaan barunya
Tampak antusiasme siswa dalam membaca
Tampak antusiasme siswa dalam membaca

Selesai membaca, adik-adik yang berani menceritakan apa yang sudah dibaca akan diberikan hadiah.

“Siapa yang berani?” Tanya kakak nya.

Salah seorang siswa berani menceritakan buku yang ia baca di depan kelas
Salah seorang siswa berani menceritakan buku yang ia baca di depan kelas

Kebiasaan membaca akan menjadikan wawasan seseorang menjadi lebih luas, menjadi lebih tahu, dan menjadi lebih memiliki dasar untuk berkata-kata ataupun menulis. Itulah yang diharapkan juga dari Program BBN ini. Membangkitkan semangat membaca untuk anak-anak dapat dimulai dari buku bacaan yang menarik, seperti dongeng ataupun cerita ilmiah bergambar.

Setelah Story Telling, Adik-adik diajak untuk berikrar dan membubuhkan cap telapak tangan di didinding komitmen membaca, hal ini dilakukan agar rasa untuk rajin membaca itu tertanam dalam jiwa masing-masing anak. Adapun isi komitmen tersebut adalah “ Kami siswa-siswi SDN Aenganyar 1 berjanji untuk Rajin membaca buku dan berani untuk menggapai cita-cita demi membangun Negara indonesia yang lebih baik”. Dengan lantang adik-adik disini berikrar segenap jiwa.

Setelah ikrar selesai diucapkan maka saatnya membubuhkan tanda semangat yang mendalam di dinding komitmen.

Sar 12
Cap tangan tanda komitmen untuk terus memperkaya wawasan dengan membaca

Filosofi untuk adanya komitmen rajin membaca ini diawali dari harapan kami sebagai Tim BBN untuk ikut menciptakan kenangan yang akan menjadi dasar dan peluru semangat yang tertanam kepada adik-adik akan janjinya untuk menjadi siap menyambut tongkat estafet pembangunan Tanah Air Indonesia.

Next…. Kita masuk ke acara berikutnya yaitu Dinding Asa. Disini adik-adik akan diajak bercita-cita yang tinggi dan tentunya bermanfaat bagi orang banyak. Adik-adik akan diajak menuliskan nama, kelas, dan cita-cita nya. Mereka diajak berpendapat mengapa mereka mencintai cita-cita tersebut. Cita-cita merupakan harapan polos yang dimiliki adik-adik di kepulauan madura ini, bukan tidak mungkin mereka mewujudkan cita-cita mereka, ada Guru, Orang Tua, dan Kami ( relawan BBN) yang terus belajar dari keceriaan mereka untuk berbagi senyum dan semangat kesekitarnya melalui Buku yang akan menjadi jendela dunia bagi Mereka. Ayo buat cita-citamu lebih tinggi!!

CIta-cita pada dinding asa
CIta-cita pada dinding asa

Selesai Memanjatkan cita-cita setinggi Langit Maka saat nya adik-adik harus tetap semangat belajar, membaca, dan menjadi juara. Maka berakhirlah acara BBN etape Madura. BBN 2017!!! Bisa, bisa, bisa. Tak ada kata untuk berhenti.

Berfoto bersama usai Kelas Merah Putih
Berfoto bersama usai Kelas Merah Putih
Relawan Etape BBN Kepulauan Madura SDN Aenganyar
Relawan Etape BBN Kepulauan Madura SDN Aenganyar

 

Tulisan oleh  Sartika

Foto : Tim dokumentasi Etape BBN Kepulauan Madura

Menumbuhkan Harapan di Tengah Keterbatasan pada Etape BBN Madura Pulau Gili Iyang

Menumbuhkan Harapan di Tengah Keterbatasan pada Etape BBN Madura Pulau Gili Iyang

Jumat malam tepatnya pukul 00.00 kami para Relawan Bakti Bagi Negeri berkumpul di meeting point, Telkom Ketintang bersiap-siap untuk membagikan 1200 buku di kepulauan Madura. Kami dibagi menjadi tiga tim, dua tim yang menuju Pulau Gili Genting akan membagikan 500 buku ke SDN 1 Aenganya, 450 buku untuk SDN 1 Gedungan, dan satu tim lainnya menuju Pulau Gili Iyang untuk 250 buku ke SDN 3 Bancamara.

Perjalanan dari dermaga Dungkek ke Pulau Gili Iyang
Perjalanan dari dermaga Dungkek ke Pulau Gili Iyang

Kebetulan saya, Sheena, Renny, Najib, Bima, berada dalam tim yang akan ke SDN 3 Bancamara, Gili Iyang dibantu dengan support Pak Okin dan Firman. Dermaga untuk ke Gili Iyang berada di Desa Dungkek, berbeda dengan dermaga Saronggi yang menuju ke Gili Genting. Kami tiba di Dungkek sekitar jam 8 kurang, loading barang ke kapal Pak Aziz yang akan mengantar kami ke Pulau Gili Iyang yang merupakan pulau kaya akan Oksigen.

persiapan menaiki Odong-odong
persiapan menaiki Odong-odong

Setiba di sana kami disambut oleh Pak Rohim dan Pak Lis yang merupakan guru SDN 3 Bancamara. Perjalanan ke Bancamara cukup jauh sehingga kami menggunakan transportasi khas setempat, odong-odong, begitu warga Gili Iyang menyebutnya. Dapat dibayangkan bagaimana bergetarnya badan kami saat diatas kendaraan tersebut.

Win5

Tiba di SD 3 Bancamara perasaan senang dan haru seketika menyelimuti perasaan kami, karena mulai dari Kepala Sekolah hingga orangtua murid menyambut kami dengan hangat. Pak Achmad Bati selaku Kepala Sekolah sengaja mengundang orangtua murid, karena peran orangtua sangat penting dalam mendidik anak, bukan hanya guru yang bertugas mendidik anak, tapi guru dan orangtua perlu bersinergi untuk pendidikan anak-anak di negeri ini, Indonesia.

Tim Relawan BBN SDN 3 Bancamara
Tim Relawan BBN SDN 3 Bancamara

Pulau Gili Iyang belum dilewati oleh jalur listrik yang disediakan oleh PLN, sehingga warga memanfaatkan genset atau tenaga surya termasuk di SDN 3 Bancamara. Murid di SDN 3 Bancamara hanya berjumlah 48 siswa dari kelas 1 hingga 6. Dengan antusias adik-adik tersebut mengibarkan bendera Merah Putih yang telah kami bagikan sebagai alat untuk menarik perhatian adik-adik agar lebih kondusif, Kelas Merah Putih pun dimulai dengan pemberian sambutan dan motivasi oleh Pak Bati dan perwakilan BBN yaitu Mas Najib.

Win118
Penyerahan bantuan

Selain penyerahan 250 buku, alat-alat olahraga dan penyampaikan materi mengenai Internet Positif dan Pentingnya Membaca, kami mengadakan banyak kuis dan permainan. Banyak sekali adik-adik yang antusias untuk maju kedepan karena tertarik akan hadiah yang kami berikan. Kami meminta seorang murid untuk maju ke depan, tapi yang datang malah seluruh siswa yang duduk dalam sebaris  meja, sampai kami kewalahan mengatur adik-adik lucu ini.

Win21
Keseruan kelas merah putih

Untuk mendorong adik-adik murid SDN 3 Bancamara ini agar senang membaca buku, mereka diminta untuk menuliskan cita-cita mereka di stiker yang telah kami bagikan satu persatu. Selanjutnya stiker tersebut akan ditempelkan setinggi-tingginya oleh adik-adik di Dinding Asa yang telah kami siapkan. Cita-cita mereka perlu didorong dengan salah satu cara yaitu rajin membaca buku, maka kami pun menyiapakan dinding komitmen yang berisi cap tangan adik-adik mungil ini sebagai komitmen membaca buku untuk seterusnya.

Win14
Menempelkan stiker bertuliskan cita-cita pada dinding asa

Tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir jam 11, waktu harus memisahkan kami dengan adik-adik lugu dan lucu ini, sedih rasanya harus berpamitan dengan guru-guru, adik-adik dan para orangtua. Tidak lupa sebelum benar-benar meninggalkan lokasi kami berfoto bersama sebagai kenangan. Rindu rasanya melihat senyuman mereka lagi. Tidak sabar rasanya untuk merencanakan etape selanjutnya, melanjutkan pencapaian setengah juta buku untuk anak-anak di Indonesia.

Berfoto bersama sesuai rangkaian acara
Berfoto bersama sesuai rangkaian acara

 

Tulisan Oleh Syadwina Mahyani

Foto : Tim dokumentasi Etape BBN Kep Madura

BBN Etape Madura : Cerita dari Tanah Gili

BBN Etape Madura : Cerita dari Tanah Gili

Jumat, 24 Februari 2017 dua puluh orang tim relawan BBN Regional 5 tengah bersiap-siap melaksanakan etape di Kepulauan Madura. Tiga sekolah dasar yang menjadi tujuan etape kali ini adalah SDN 1 Gedugan, SDN 1 Bancamara, SDN Aenganyar. Ketiga sekolah tersebut terletak di dua pulau yang berbeda, SDN 1 Gedugan dan SDN Aenganyar terletak di pulau yang bernama Gili Genting, sedangkan SDN 1 Bancamara terletak di pulau yang bernama Gili Iyang. Tiga tim dibentuk untuk masing-masing sekolah, kebetulan saya kebagian tim di SDN 1 Gedugan yang berjumlah total lima orang.

Perjalanan menuju SDN 1 Gedugan dimulai saat kami tiba di dermaga gili genting pukul 08.00. Kami dijemput oleh mobil pikap untuk menuju SDN 1 Gedugan yang yang membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari dermaga.

Sekitar pukul 08.30 WIB kami tiba di SDN 1 Gedugan, sesampainya di sana kami disambut oleh para guru dan riuhnya adik-adik yang antusias akan kedatangan kami membawa banyak tumpukan buku-buku. Bahagia dan haru rasanya.

Sebelum memulai acara kelas merah putih yakni acara inti relawan untuk mengajar dan membagikan buku kepada adik-adik SDN 1 Gedugan, kami melakukan prosesi singkat penyerahan buku dan alat olah raga dari Telkom yang diwakili oleh GM Witel Gema Bapak Wasito Adi kepada Wakil Kepala Sekolah SDN 1 Gedugan Bapak Ahmad Rifai. Turut hadir Bapak Yanto selaku kepala UPT Pendidikan kecamatan Gili Genting.

Dalam sambutannya Beliau mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya kepada PT. Telkom Indonesia atas program BBN ini yang  telah menyentuh pendidikan di daerah-daerah pedalaman seperti SDN 1 Gedugan ini. Dalam sambutan GM Witel Gema, Bapak Wasito juga menyampaikan harapannya semoga dengan program BBN ini bantuan yang sedikit dari Telkom dapat memberikan manfaat yang banyak untuk pendidikan di pelosok negeri.

photo_2017-02-26_11-55-06

Prosesi penyerahan buku

????????????????????????????????????

Setelah prosesi penyerahan bantuan secara simbolis, acara dilanjut di dalam ruang kelas bersama adik-adik, acara ini kami beri nama Kelas Merah Putih.

“Merah Putih!!”,suara itu begitu nyaring dan kompak terdengar di telinga kami  saat kami meneriakkan kata “Indonesia”. Ya, itu adalah suara adik-adik SDN 1 Gedugan yang sangat bersemangat mengikuti kelas merah putih ini.

????????????????????????????????????

Sebelumnya kami membagikan bendera merah putih yang terbuat dari plastik dengan aturan main yakni jika kami menyebut Indonesia, mereka harus menjawab Merah Putih. Itu cara kami untuk mendapatkan perhatian tidak kurang dari enam puluh orang anak-anak SD kelas satu sampai kelas enam apabila suasana mulai gaduh.

Berbagai hadiah kami siapkan untuk mereka yang berani maju dan menceritakan cita-citanya. Ada yang ingin menjadi guru, pilot, dokter, hingga ustadz. Wow..luar biasa. Kami meminta mereka untuk tulis cita-cita itu pada sebuah kertas stiker yang kami siapkan.

Kertas itu akan mereka tempelkan pada kain yang  diberi nama “Dinding Asa”. Apa yang mereka tulis dan tempel di dinding asa akan menjadi pengingat acap kali mereka malas belajar, karena untuk menjadi apa yang mereka cita-citakan kuncinya cuma satu yaitu tidak boleh malas belajar. Pesan itulah yang coba kami sampaikan pada sesi ini.

Fir5Fir6

FIr7

Setelah mengajak adik-adik untuk berani bercita-cita, kami mengajak mereka untuk bermain. Permainannya adalah menyusun puzzle. Puzzle ini bukan sembarang puzzle karena di dalam puzzle itu ada harta karun yang harus mereka temukan di salah satu lokasi yang tergambar di puzzle. Tidak butuh waktu lama untuk menyusun kepingan puzzle yang bergambar halaman sekolah mereka.

Sungguh anak-anak yang cerdas. Dalam waktu kurang dari 3 menit saja mereka mampu menyelesaikan susunan puzzle itu dan Voila… mereka pun langsung dapat menemukan letak harta karun itu. Mereka berbondong lari menuju tempat harta karun itu berada. Ya, tumpukan buku seberat kira-kira 10 kilogram adalah harta karun nya. Diangkat ramai-ramai oleh mereka untuk dipindahkan dari pojok halaman ke tengah halaman tempat menyusun puzzle tadi. Kompak sekali.

Fir2Fir4

Memecahkan puzzle dan menemukan harta karun

Buku pun kami buka dari bungkusan dan kami bagikan satu per satu kepada mereka. Berebut? Sudah pasti, khas anak-anak. Untuk menyiasatinya kami minta mereka berlomba untuk membuat barisan. Siapa paling cepat baris dan rapi, itu yang mendapat buku pertama kali.

Setelah buku dibagi, mereka kami minta untuk berjanji membaca buku itu. Tidak hanya buku itu saja sebetulnya, esensinya adalah kami ajak adik-adik untuk gemar membaca buku apapun yang bisa menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Janji itu dituliskan dalam sebuah kain Komitmen Membaca yang berbunyi “Kami siswa-siswi SDN Gedugan 1 berjanji untuk rajin membaca buku dan berani untuk menggapai cita-cita demi membangun Indonesia yang lebih baik”. Cap tangan adik-adik merupakan wujud komitmen mereka dalam selembar kain iniFir9

Tak kurang dari dua jam kebersamaan kami dengan adik-adik SDN 1 Gedugan membuat perasaan haru, senang, dan sedih bercampur. Haru melihat sambutan yang begitu hangat dari para guru dan adik-adik, senang karena bisa berbagi sedikit keceriaan, sedih karena harus meyudahinya.

Fir13

“Jika melek aksara telah menjadi hal biasa, minat baca adalah hal yang istimewa. Sekadar mengeja telah menjadi kebiasaan namun gemar membaca adalah keistimewaan. Meningkatkan minat baca memang tak gampang, berbagai kendala banyak menghadang. Budaya menonton kian merajalela, sosial media lebih menggoda ketimbang pustaka. Buku-buku memang terus diproduksi tapi tak serta merta meningkatkan literasi. Belum lagi persoalan distribusi, buku-buku sulit diakses mereka yang terisolasi.Perpustakaan hanya diisi diktat dan kisi-kisi. Sedikit yang bisa menghidupkan imajinasi. Terpujilah mereka yang gigih sebarkan bahan bacaan kepada mereka yang haus ilmu pengetahuan. Mereka lah yang menyodorkan jendela dunia agar anak-anak dapat berpikir seluas cakrawala. Agar kita menjadi negara maju, menjadi bangsa yang melahirkan penemu”. Kutipan Mbak Najwa Shihab  barusan sekaligus menjadi penutup tulisan saya ini. Di Gili aku berbakti sekaligus membagi cinta dan kasih pada mereka yang jauh dari tempatku berdiri. Semoga sahabat relawan bakti bagi negeri termasuk dalam mereka yang mampu menghidupkan imajinasi.

Tulisan oleh Safirina Febrianti

Foto : Tim dokumentasi Relawan BBN Etape Madura

Etape BBN Wonosobo: Berbagi dalam kesederhanaan, Mengguratkan sebaris senyuman.

Etape BBN Wonosobo: Berbagi dalam kesederhanaan, Mengguratkan sebaris senyuman.

    Hasrat untuk berbagi kebahagiaan dan cerita kepada adik-adik di pelosok negeri ini masih menggebu-gebu setelah Etape di daerah Purwakarta bulan November silam.  Alhamdulillah, kesempatan itu datang menghampiri saya dan teman-teman Telkomers lainnya di TREG 4. Setelah melakukan survey sekolah, terpilihlah MI Maarif Sirangkel dan MI Maarif Topengan yang berlokasi di Kabupaten Wonosobo – Jawa Tengah sebagai lokasi Etape Bakti Bagi Negeri (BBN) perdana di tahun 2017, dengan jumlah seribu buku yang akan dibagian di kedua sekolah tersebut. Terimakasih atas dukungan para rekan BBN dan Sekar Telkom yang telah memberi “kebahagiaan kecil” untuk adik-adik di sana.

1

     Lima belas pasukan dari penjuru Telkom Regional IV, mulai dari Witel Pekalongan, Kudus, Semarang, Jogjakarta, Solo, Purwokerto dan Magelang akan menjadi pejuang hebat yang siap menebar manfaat. Terharu rasanya melihat semangat teman-teman yang luar biasa untuk acara ini. Antusiasme mereka untuk mengikuti Etape mampu mengalahkan rasa pesimis saya di awal, “Apakah acara ini akan berjalan dengan relawan yang seadanya?” pertanyaan itulah yang selalu muncul di dalam benakku.

  Kepanitiaan sudah ditentukan. Berbagai persiapan telah kami laksanakan. Diantaranya membeli buku yang tentunya harus disesuaikan judul dan temanya. Lalu sepulang kantor kami melanjutkan malam dengan menyetempel buku-buku tersebut, memasukkan ke dalam kardus agar segera kami kemas supaya menjadi lebih menarik. Selain itu, kami juga persiapkan berbagai pernak pernik properti games di sela-sela acara etape. Meskipun lelah, tapi kebersamaan dan semangat menyongsong etape nyatanya mampu mengalahkan semuanya.

5

       Sabtu pagi, 21 Januari 2017. Dengan seragam kaos IndiHome merah khas Telkom, kami segera menuju ke lokasi etape. Sekali lagi, rasa excited kami untuk berbagi kebahagiaan dan bertemu dengan adik-adik di pelosok sana semakin kuat. Perjalanan menuju lokasi etape tidaklah mudah. Maklum, kedua sekolah tersebut berada di kaki gunung. Bahkan desa Sirangkel merupakan desa paling tinggi di wilayah tersebut. Kami harus melewati jalanan terjal yang berliku, dengan pemandangan gunung dan hutan di kanan kirinya. Sebuah bonus yang Allah berikan di awal langkah kecil kami menuju kebaikan hari itu.

6

    Dua tim besar sudah dibagi untuk berkunjung ke dua sekolah secara paralel. Teriakan adik adik kecil berseragam pramuka yang sedang bermain di lapangan saat mobil kami tiba di lokasi terdengar seperti mengombak menyambut kedatangan kami. Segera kami masuk ke ruang kelas yang sudah dipenuhi adik-adik kelas 4, 5 dan 6, adik-adik kecil yang masih polos. Rangkaian acara pun berjalan dengan baik sesuai rencana. Mulai dari pembukaan, penyerahan buku secara simbolis dari perwakilan tim relawan kepada kepala sekolah, lalu dilanjutkan dengan sesi bagi-bagi buku di kelas sekaligus ‘kelas hening’.

8

     Terlihat senyum sumringah mereka guratkan saat melihat tumpukan buku baru dengan sampul warna warni yang menarik hati di atas meja. Dari binar mata yang mereka tampakkan seperti menyiratkan “rasa haus” akan buku-buku baru yang wangi, yang warna-warni, yang berisi ilmu baru yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya. Dengan sigap, mereka berebut buku favoritnya yang mungkin sudah diincar sejak awal acara. Tumpukan buku di meja pun seketika ludes.

     Setelah agenda bagi-bagi buku, sesi kelas hening pun dimulai. Kelas hening? Ya, sebuah sesi dimana adik adik kami berikan kesempatan untuk membaca buku yang mereka telah pilih, sebelum kemudian tiba giliran mereka bercerita di depan kelas tentang apa yang telah dibacanya. Keadaan dimana ruang kelas begitu hening, sesekali terdengar suara komat-kamit sedang mengeja bacaan yang sayup-sayup. Saat yang mendebarkan pun datang juga. Kesempatan tampil di depan kelas untuk bercerita tak mungkin disia-siakan begitu saja. Meskipun ada yang malu-malu saat bercerita di depan teman-temannya, nyatanya mereka tetap berusaha tampil sebaik mungkin. Semua nampak mendengarkan dengan sungguh-sungguh, ada yang terkantuk-kantuk, ada yang iseng bin jahil dengan teman sebelahnya. Sungguh, berkumpul dengan adik adik kecil ini membuat kami jadi ‘awet muda’ karena selalu ada saja tingkah laku konyol yang membuat kami sakit perut tertawa terpingkal-pingkal.

2

     Setelah 1,5 jam menghabiskan sesi di dalam kelas, tibalah saatnya sesi permainan di luar kelas. Semua adik-adik berkumpul di lapangan. Beberapa permainan berhasil membuat kami semua keluar keringat karena harus berlari kesana kesini dan tertawa geli melihat ekspresi satu sama lain. Meskipun permainan sederhana, tapi nyatanya bisa membuat semua orang happy dan menyatu. Ah sebuah kebersamaan yang indah 🙂

7

3

     Dan tibalah waktu perpisahan kami dengan adik adik di MI Maarif Topengan dan MI Maarif Sirangkel. Kami pun pamit dan tak hentinya berterima kasih banyak kepada pihak sekolah yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk dapat berbagi dengan adik adik melalui buku, cerita dan inspirasi di hari yang indah itu. Semoga apa yang kami bisa berikan kepada mereka dapat menjadi manfaat, dan semoga kesan yang mereka telah hadirkan kepada kami dapat menjadi pengingat, bahwa ‘berbagi itu melegakan’.

Tulisan oleh : Maya Previana Syafitri

Foto : Tim Etape BBN Wonosobo

Relawan BBN Tebar Buku ke Pelosok Desa di Deli Serdang

Relawan BBN Tebar Buku ke Pelosok Desa di Deli Serdang

bbn-medan1Relawan Bakti Bagi Negeri (BBN) Medan menebar buku-buku baca ke pelosok Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (18/3). Buku-buku yang ditebar Tim Relawan BBN ini berupa buku cerita, buku pengetahuan dan buku pelajaran baik baru maupun bekas namun masih laik dibaca yang disumbangkan para anggota Serikat Karyawan (Sekar) Telkom.

Sedangkan dua sekolah yang sudah disurvei dan layak mendapat sumbangan buku-buku tersebut yaitu SD Negeri 101865 Desa Bintang Meriah, Kecamatan Batang Kuis dan Yayasan Perguruan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Maidah Kotasan Kecamatan Galang di Kabupaten Deli Serdang.

Ketua Tim Relawan BBN, Winda Novita berharap buku-buku yang disumbangkan ini diharapkan bermanfaat untuk menambah pengetahuan para anak didik di sekolah. Ia mengungkapkan para Guru juga bisa membaca buku pengetahuan untuk menambah wawasan.

Keep reading →

Sekar Pekalongan Cerdaskan Anak Bangsa dengan BBN

Sekar Pekalongan Cerdaskan Anak Bangsa dengan BBN

BNNDalam rangka HUT Sekar ke 14, DPD Pekalongan melakukan kegiatan aksi sosial diantaranya menyerahkan bantuan buku. Kamis (6/3) kepada Sekolah SD Masehi di Jalan Rajawali Utara. Tidak hanya pada SD Masehi, Sekar Pekalongan juga menyerahkan buku pada MIS III kelurahan Jenggot Jalan Pelita II Pekalongan. Pemberian buku tersebut terkait dengan program Sekar, Bakti Bagi Neger (BBN).

Bantuan dari DPD Sekar Pekalongan diwakili Harry, Budi R, dan Sutrisno berkenan diterima langsung Kepala SD Masehi Ester dan Kepala MIS III Jenggot Ramuji. Seluruh buku merupakan sumbangan dari para anggota Sekar pekalongan dengan tujuan agar anak-anak memperoleh buku bacaan sehat dan mempunyai manfaat sangat besar.

Keep reading →

Relawan BBN Bandung Antarkan Buku Donasi Ke 3 Lokasi di Subang

BBN_Bandung_1Relawan Bakti Bagi Negeri (BBN) Bandung, Minggu (2/3) mengantarkan lebih dari 800 eksemplar buku bacaan anak-anak ke 3 lokasi di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Buku-buku tersebut merupakan hasil donasi para karyawan TelkomGroup maupun pihak luar yang salah satunya dihimpun dari kegiatan pengumpulan sumbangan melalui #SekociBuku pada 5-21 Februari 2014. Jenis buku yang diantar adalah buku bacaan anak-anak khusus untuk usia 5-12 tahun atau usia sekolah dasar.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Taman Baca Sugih Mukti Mandiri di Kecamatan Kasomalang Wetan. Taman Baca tersebut didirikan Lembaga Sugih Mukti Mandiri milik Abbah Taryat, seorang enterpreneur peternakan sapi mandiri yang dikelola dari dan untuk masyarakat Kasomalang. Didampingi 2 relawan dari Yayasan Kidzsmile yaitu Vita dan Idzma, Relawan BBN menyerahkan buku hasil donasi kepada Kepala Sekolah PAUD Sugih Mukti Mandiri yang sekaligus kepala pengelola taman baca, Nurliah Solihat. Sebelumnya Relawan BBN menyempatkan diri bermain dan berbagi cerita bersama anak-anak serta para pengajar PAUD.

Keep reading →

Ketua DPW Sekar Jatim Serahkan Sumbangan Buku Aksi BBN Surabaya

3_Maret_Penyerahan_Buku_BBN_2014Ketua DPW Sekar Jatim Edward Simanjuntak menyerahkan sumbangan buku hasil donasi dari pada program Aksi Bakti Bagi Negeri (BBN) kepada Sekolah Alam (SA) ‘Rumah Matahari’ yang terletak di Jalan Klagen Wilayut Sukodono Sidoarjo, Senin (3/3). Dalam kesempatan tersebut Edward didampingi didampingi Ketua DPD Sekar Surabaya Utara Agus Eko. P, Ketua Sekar DPD Surabaya Selatan Abdullah Khoir, serta Korlap Etape Lokal area Surabaya Silvy Indriani.

Total sumbangan buku yang berhasil dikumpulkan sebanyak 296 buku, baik itu yang terdiri dari buku bekas layak baca maupun buku baru dan juga bacaan untuk anak-anak SD. Selain buku, Tim Aksi BBN dari Surabaya ini menyerahkan 5 buah papan tulis. Secara simbolis bantuan diterima langsung Kepala Sekolah SA ‘Rumah Matahari’ Ustaz Heri Suwignyo.

Keep reading →

Ketua DPD Sekar Telkom Medan Serahkan Sumbangan Untuk BBN

BBN-MedanKetua DPD Sekar Telkom Medan Bakti Setyobudi menyerahkan sumbangan untuk menyemarakkan kegiatan Bakti Bagi Negara (BBN) usai apel pagi peringatan Hari Ulang Tahun Sekar ke-14 di kota Medan, Senin (3/3).

Bakti mewakili rekan-rekan tim futsal menyerahkan uang hadiah Futsal Ceria sebesar Rp 500 ribu ke Sekoci Buku. Dalam kesempatan itu, Lenny R Marlina dari Unit HR area Medan juga menyerahkan buku bacaaan ke kotak yang telah disediakan Relawan BBN tersebut.

“Semoga rekan-rekan Sekar ikut juga menyumbang buku maupun uang tunai agar Gerakan Setengah Juta Buku Bagi Anak Indonesia ini sukses,” imbaunya.

Keep reading →