Namanya Erik Saputra, dan Ia Ingin Sekolah di Seberang

Namanya Erik Saputra, dan Ia Ingin Sekolah di Seberang

“Eyen kecil sangat suka membaca. Buku apapun ia baca. Namun, kondisi ekonomi membuat Eyen kecil tidak bisa bebas membaca buku yang ia inginkan. Pernah suatu hari, Eyen kecil diusir ketika membaca buku di suatu toko. Eyen kecil sedih, tentu saja. Apa salahnya dengan membaca buku hingga harus di usir? Sejak itu, eyen kecil bertekad, suatu hari nanti tidak boleh ada lagi anak Indonesia seperti eyen kecil. Mereka harus bisa bebas membaca buku”

Saya, tiga detik terdiam sambil mendengarkan, lalu meng-aminkan doa Eyen kecil.

***

Senin, 27 Maret 2017, pukul 06.00 WIB Tim Etape Ogan Ilir bersiap menuju dua sekolah dasar, SDN 04 Desa Sarang Lang Kecamatan Pemulutan Barat dan SDN 03 Desa Cahaya Marga Kecamatan Pemulutan Selatan, keduanya berada di  Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Berjumlah 12 orang dan menggunakan tiga mobil, Tim Bakti Bagi Negeri Etape Ogan Ilir siap mengantarkan 1.086 buku bacaan dari BBN dan 160 bantuan tas sekolah dari Sekar Witel Sumsel. Perjalanan  darat yang hampir 2,5 jam dan 30 menit perjalanan sungai kami lalui dengan bersemangat sambil membahas games apa yang akan kami sampaikan ke mereka.

 

persiapan keberangkatan

Bukun donasi yang akan disalurkan

Jalan yang kami lalui tidak bisa dikatakan bagus,  tanahnya liat berwarna merah, lobang jalan di sana-sini, kanan kiri jalan berjejer pohon pisang yang tidak sengaja tumbuh di tanah rawa yang sepertinya bekas persawahan padi. Jalannya sangat sempit,  jika ada mobil berpapasanan saja, salah satu mobil harus berhenti dan membiarkan mobil lainnya untuk jalan. Saya membayangkan, betapa hanya berjarak 2,5 jam saja begitu berbeda pembangunan negara ini, jika di pusat kota Palembang sedang hiruk pikuk pembangunan Kereta Api cepat dan persiapan megahnya Asian Games 2018, di desa Sarang Lang ini penduduknya masih akrab dengan mandi di sungai dan jalannya yang berlobang.

 

 

Tiba di SDN 04 Desa Sarang Lang, anak-anak menyambut antusias. Semua anak rebutan untuk membantu mengangkat kardus berisi buku, tas sekolah bagi satu-satu. Kami pun dijamu, seperti layaknya tamu dari kota yang datang ke desa. Kepala sekolah dan ketua adat mengucapkan terimakasih tak terhingga atas bantuan buku dari BBN. Harapan mereka, buku-buku baru ini bisa membantu siswa-siswa untuk lebih suka membaca.

Sambutan pengurus Sekar Telkom

Perjalanan di lanjutkan ke SDN 03 Desa Cahaya Marga, setelah 30 menit melalui anak sungai Musi, kami tiba di lokasi. Yang pertama saya tanya kepada guru di sekolah adalah : “maap pak, saya bisa numpang charging HP?” . Bertanya listrik tentu saja, perut boleh lapar karena sudah siang, tapi Socmed harus tetap update berita supaya hati senang.  Sayangnya pertanyaan saya di jawab tegas :

“disini belum ada listrik Bu, apalagi internet, PLN belum masuk ke lokasi sini”.

Saya sedih, makin sedih ketika melihat hampir semua pintu kelas rusak yang konon katanya sering dibobol maling. Bingung juga, mau maling apa lagi mereka di lokasi SD yang udah reyot seperti itu. Belum lagi jendela kelas yang tidak ada kacanya, melihat ke jendela artinya bisa melihat langsung hutan lepas, banyak monyet  katanya di hutan itu.

 

Perjalanan menuju SDN03

 

 

Serah terima buku sudah di lakukan kepada kepala sekolah dan ketua adat, lanjut kelas merah putih. Buku-buku sengaja kami letakkan di luar kelas, anak-anak dipersilahkan untuk mengambil buku yang mereka inginkan. Siswa antusias, setiap tangan berhasil meraih beberapa buku hingga buku habis, lalu mereka duduk di teras kelas. Semua bergumam,suara mereka mengeja huruf di buku, gumam kecil tapi sangat riuh di telinga. Entah kenapa ada harapan mengalir di hati ini. Ahh, teruslah membaca dik, buku-buku itu akan menuntun kalian hingga sukses.

 

Erik Saputra namanya, siswa kelas 4 SDN 03, tempat kami mengirimkan buku. Ketika acara resmi serah terima  dikelas, ia sibuk membanggakan buku tabungan ke temannya, jumlah tabungannya Rp.385.000 yang ditabung selama setahun melalui wali kelas. Moment itu ditangkap oleh salah satu relawan. Di Kelas merah putih, kami uji nyali Erik untuk bercerita di depan kelas menceritakan buku tabungan dan buku yang dia baca. Dia diam, malu sepertinya, berbeda sekali dengan semangatnya bercerita di belakang kelas. Ia mulai bercerita ketika hanya bedua saja dengan relawan.

“Erik cita-citanya mau jadi apa?”

“Mau jadi polisi”

“Nanti kalo SMP mau sekolah di mana?”

“Di seberang (sambil menunjuk ke seberang sungai)”

Obrolan berlanjut sampai akhirnya ia di panggil temannya. Sungguh matanya sangat berbinar menceritakan buku tabungan dan cita-citanya. Mata yang sangat yakin bahwa cita-citanya pasti akan tercapai untuk menjadi polisi. Kami ikut meyakinkan jika ia pasti mampu jadi polisi. Terus membaca ya dik, lihat dunia lewat buku. Supaya erik dan teman-teman erik punya cita-cita yang makin tinggi, mampu menyebutkan kota yang berada di seberang bukan hanya menyebutnya “daerah seberang”, bercerita dengan penuh percaya diri di depan kelas dan orang banyak, sekolah tidak hanya di seberang desa, tapi juga di seberang negara. Ada namanya negara Amerika di sana yang lebih besar lagi, dik.

 

Kelas merah putih selesai, semua anak-anak senang, bersemangat sekali mereka kembali membaca buku, bahkan ada beberapa siswa yang menanyakan apakah boleh buku tersebut di bawa pulang 🙂

Balik lagi ke eyen kecil, eyen kecil inilah yang saat ini menjadi inisiator Program Bakti Bagi Negeri, menjadi salah satu relawan, ikut membagi buku dan mewujudkan satu persatu mimpi-mipi anak negeri lewat buku. Eyen kecil sekarang sudah bisa menularkan semangatnya kepada anak-anak negeri. Tidak ada kata tuk berhenti, tekad itu masih menyala, tekad menebar buku berkualitas bagi anak-anak di pelosok negeri. Untuk melihat senyum mereka yang lebih cerah, secerah warna-warni buku yang kami antarkan.

 

Ditulis oleh : Ledy Caroline, Relawan BBN Sumsel

Foto oleh : Tim Dokumentasi BBN

Menumbuhkan Harapan di Tengah Keterbatasan pada Etape BBN Madura Pulau Gili Iyang

Menumbuhkan Harapan di Tengah Keterbatasan pada Etape BBN Madura Pulau Gili Iyang

Jumat malam tepatnya pukul 00.00 kami para Relawan Bakti Bagi Negeri berkumpul di meeting point, Telkom Ketintang bersiap-siap untuk membagikan 1200 buku di kepulauan Madura. Kami dibagi menjadi tiga tim, dua tim yang menuju Pulau Gili Genting akan membagikan 500 buku ke SDN 1 Aenganya, 450 buku untuk SDN 1 Gedungan, dan satu tim lainnya menuju Pulau Gili Iyang untuk 250 buku ke SDN 3 Bancamara.

Perjalanan dari dermaga Dungkek ke Pulau Gili Iyang
Perjalanan dari dermaga Dungkek ke Pulau Gili Iyang

Kebetulan saya, Sheena, Renny, Najib, Bima, berada dalam tim yang akan ke SDN 3 Bancamara, Gili Iyang dibantu dengan support Pak Okin dan Firman. Dermaga untuk ke Gili Iyang berada di Desa Dungkek, berbeda dengan dermaga Saronggi yang menuju ke Gili Genting. Kami tiba di Dungkek sekitar jam 8 kurang, loading barang ke kapal Pak Aziz yang akan mengantar kami ke Pulau Gili Iyang yang merupakan pulau kaya akan Oksigen.

persiapan menaiki Odong-odong
persiapan menaiki Odong-odong

Setiba di sana kami disambut oleh Pak Rohim dan Pak Lis yang merupakan guru SDN 3 Bancamara. Perjalanan ke Bancamara cukup jauh sehingga kami menggunakan transportasi khas setempat, odong-odong, begitu warga Gili Iyang menyebutnya. Dapat dibayangkan bagaimana bergetarnya badan kami saat diatas kendaraan tersebut.

Win5

Tiba di SD 3 Bancamara perasaan senang dan haru seketika menyelimuti perasaan kami, karena mulai dari Kepala Sekolah hingga orangtua murid menyambut kami dengan hangat. Pak Achmad Bati selaku Kepala Sekolah sengaja mengundang orangtua murid, karena peran orangtua sangat penting dalam mendidik anak, bukan hanya guru yang bertugas mendidik anak, tapi guru dan orangtua perlu bersinergi untuk pendidikan anak-anak di negeri ini, Indonesia.

Tim Relawan BBN SDN 3 Bancamara
Tim Relawan BBN SDN 3 Bancamara

Pulau Gili Iyang belum dilewati oleh jalur listrik yang disediakan oleh PLN, sehingga warga memanfaatkan genset atau tenaga surya termasuk di SDN 3 Bancamara. Murid di SDN 3 Bancamara hanya berjumlah 48 siswa dari kelas 1 hingga 6. Dengan antusias adik-adik tersebut mengibarkan bendera Merah Putih yang telah kami bagikan sebagai alat untuk menarik perhatian adik-adik agar lebih kondusif, Kelas Merah Putih pun dimulai dengan pemberian sambutan dan motivasi oleh Pak Bati dan perwakilan BBN yaitu Mas Najib.

Win118
Penyerahan bantuan

Selain penyerahan 250 buku, alat-alat olahraga dan penyampaikan materi mengenai Internet Positif dan Pentingnya Membaca, kami mengadakan banyak kuis dan permainan. Banyak sekali adik-adik yang antusias untuk maju kedepan karena tertarik akan hadiah yang kami berikan. Kami meminta seorang murid untuk maju ke depan, tapi yang datang malah seluruh siswa yang duduk dalam sebaris  meja, sampai kami kewalahan mengatur adik-adik lucu ini.

Win21
Keseruan kelas merah putih

Untuk mendorong adik-adik murid SDN 3 Bancamara ini agar senang membaca buku, mereka diminta untuk menuliskan cita-cita mereka di stiker yang telah kami bagikan satu persatu. Selanjutnya stiker tersebut akan ditempelkan setinggi-tingginya oleh adik-adik di Dinding Asa yang telah kami siapkan. Cita-cita mereka perlu didorong dengan salah satu cara yaitu rajin membaca buku, maka kami pun menyiapakan dinding komitmen yang berisi cap tangan adik-adik mungil ini sebagai komitmen membaca buku untuk seterusnya.

Win14
Menempelkan stiker bertuliskan cita-cita pada dinding asa

Tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir jam 11, waktu harus memisahkan kami dengan adik-adik lugu dan lucu ini, sedih rasanya harus berpamitan dengan guru-guru, adik-adik dan para orangtua. Tidak lupa sebelum benar-benar meninggalkan lokasi kami berfoto bersama sebagai kenangan. Rindu rasanya melihat senyuman mereka lagi. Tidak sabar rasanya untuk merencanakan etape selanjutnya, melanjutkan pencapaian setengah juta buku untuk anak-anak di Indonesia.

Berfoto bersama sesuai rangkaian acara
Berfoto bersama sesuai rangkaian acara

 

Tulisan Oleh Syadwina Mahyani

Foto : Tim dokumentasi Etape BBN Kep Madura

BBN Etape Madura : Cerita dari Tanah Gili

BBN Etape Madura : Cerita dari Tanah Gili

Jumat, 24 Februari 2017 dua puluh orang tim relawan BBN Regional 5 tengah bersiap-siap melaksanakan etape di Kepulauan Madura. Tiga sekolah dasar yang menjadi tujuan etape kali ini adalah SDN 1 Gedugan, SDN 1 Bancamara, SDN Aenganyar. Ketiga sekolah tersebut terletak di dua pulau yang berbeda, SDN 1 Gedugan dan SDN Aenganyar terletak di pulau yang bernama Gili Genting, sedangkan SDN 1 Bancamara terletak di pulau yang bernama Gili Iyang. Tiga tim dibentuk untuk masing-masing sekolah, kebetulan saya kebagian tim di SDN 1 Gedugan yang berjumlah total lima orang.

Perjalanan menuju SDN 1 Gedugan dimulai saat kami tiba di dermaga gili genting pukul 08.00. Kami dijemput oleh mobil pikap untuk menuju SDN 1 Gedugan yang yang membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari dermaga.

Sekitar pukul 08.30 WIB kami tiba di SDN 1 Gedugan, sesampainya di sana kami disambut oleh para guru dan riuhnya adik-adik yang antusias akan kedatangan kami membawa banyak tumpukan buku-buku. Bahagia dan haru rasanya.

Sebelum memulai acara kelas merah putih yakni acara inti relawan untuk mengajar dan membagikan buku kepada adik-adik SDN 1 Gedugan, kami melakukan prosesi singkat penyerahan buku dan alat olah raga dari Telkom yang diwakili oleh GM Witel Gema Bapak Wasito Adi kepada Wakil Kepala Sekolah SDN 1 Gedugan Bapak Ahmad Rifai. Turut hadir Bapak Yanto selaku kepala UPT Pendidikan kecamatan Gili Genting.

Dalam sambutannya Beliau mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya kepada PT. Telkom Indonesia atas program BBN ini yang  telah menyentuh pendidikan di daerah-daerah pedalaman seperti SDN 1 Gedugan ini. Dalam sambutan GM Witel Gema, Bapak Wasito juga menyampaikan harapannya semoga dengan program BBN ini bantuan yang sedikit dari Telkom dapat memberikan manfaat yang banyak untuk pendidikan di pelosok negeri.

photo_2017-02-26_11-55-06

Prosesi penyerahan buku

????????????????????????????????????

Setelah prosesi penyerahan bantuan secara simbolis, acara dilanjut di dalam ruang kelas bersama adik-adik, acara ini kami beri nama Kelas Merah Putih.

“Merah Putih!!”,suara itu begitu nyaring dan kompak terdengar di telinga kami  saat kami meneriakkan kata “Indonesia”. Ya, itu adalah suara adik-adik SDN 1 Gedugan yang sangat bersemangat mengikuti kelas merah putih ini.

????????????????????????????????????

Sebelumnya kami membagikan bendera merah putih yang terbuat dari plastik dengan aturan main yakni jika kami menyebut Indonesia, mereka harus menjawab Merah Putih. Itu cara kami untuk mendapatkan perhatian tidak kurang dari enam puluh orang anak-anak SD kelas satu sampai kelas enam apabila suasana mulai gaduh.

Berbagai hadiah kami siapkan untuk mereka yang berani maju dan menceritakan cita-citanya. Ada yang ingin menjadi guru, pilot, dokter, hingga ustadz. Wow..luar biasa. Kami meminta mereka untuk tulis cita-cita itu pada sebuah kertas stiker yang kami siapkan.

Kertas itu akan mereka tempelkan pada kain yang  diberi nama “Dinding Asa”. Apa yang mereka tulis dan tempel di dinding asa akan menjadi pengingat acap kali mereka malas belajar, karena untuk menjadi apa yang mereka cita-citakan kuncinya cuma satu yaitu tidak boleh malas belajar. Pesan itulah yang coba kami sampaikan pada sesi ini.

Fir5Fir6

FIr7

Setelah mengajak adik-adik untuk berani bercita-cita, kami mengajak mereka untuk bermain. Permainannya adalah menyusun puzzle. Puzzle ini bukan sembarang puzzle karena di dalam puzzle itu ada harta karun yang harus mereka temukan di salah satu lokasi yang tergambar di puzzle. Tidak butuh waktu lama untuk menyusun kepingan puzzle yang bergambar halaman sekolah mereka.

Sungguh anak-anak yang cerdas. Dalam waktu kurang dari 3 menit saja mereka mampu menyelesaikan susunan puzzle itu dan Voila… mereka pun langsung dapat menemukan letak harta karun itu. Mereka berbondong lari menuju tempat harta karun itu berada. Ya, tumpukan buku seberat kira-kira 10 kilogram adalah harta karun nya. Diangkat ramai-ramai oleh mereka untuk dipindahkan dari pojok halaman ke tengah halaman tempat menyusun puzzle tadi. Kompak sekali.

Fir2Fir4

Memecahkan puzzle dan menemukan harta karun

Buku pun kami buka dari bungkusan dan kami bagikan satu per satu kepada mereka. Berebut? Sudah pasti, khas anak-anak. Untuk menyiasatinya kami minta mereka berlomba untuk membuat barisan. Siapa paling cepat baris dan rapi, itu yang mendapat buku pertama kali.

Setelah buku dibagi, mereka kami minta untuk berjanji membaca buku itu. Tidak hanya buku itu saja sebetulnya, esensinya adalah kami ajak adik-adik untuk gemar membaca buku apapun yang bisa menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Janji itu dituliskan dalam sebuah kain Komitmen Membaca yang berbunyi “Kami siswa-siswi SDN Gedugan 1 berjanji untuk rajin membaca buku dan berani untuk menggapai cita-cita demi membangun Indonesia yang lebih baik”. Cap tangan adik-adik merupakan wujud komitmen mereka dalam selembar kain iniFir9

Tak kurang dari dua jam kebersamaan kami dengan adik-adik SDN 1 Gedugan membuat perasaan haru, senang, dan sedih bercampur. Haru melihat sambutan yang begitu hangat dari para guru dan adik-adik, senang karena bisa berbagi sedikit keceriaan, sedih karena harus meyudahinya.

Fir13

“Jika melek aksara telah menjadi hal biasa, minat baca adalah hal yang istimewa. Sekadar mengeja telah menjadi kebiasaan namun gemar membaca adalah keistimewaan. Meningkatkan minat baca memang tak gampang, berbagai kendala banyak menghadang. Budaya menonton kian merajalela, sosial media lebih menggoda ketimbang pustaka. Buku-buku memang terus diproduksi tapi tak serta merta meningkatkan literasi. Belum lagi persoalan distribusi, buku-buku sulit diakses mereka yang terisolasi.Perpustakaan hanya diisi diktat dan kisi-kisi. Sedikit yang bisa menghidupkan imajinasi. Terpujilah mereka yang gigih sebarkan bahan bacaan kepada mereka yang haus ilmu pengetahuan. Mereka lah yang menyodorkan jendela dunia agar anak-anak dapat berpikir seluas cakrawala. Agar kita menjadi negara maju, menjadi bangsa yang melahirkan penemu”. Kutipan Mbak Najwa Shihab  barusan sekaligus menjadi penutup tulisan saya ini. Di Gili aku berbakti sekaligus membagi cinta dan kasih pada mereka yang jauh dari tempatku berdiri. Semoga sahabat relawan bakti bagi negeri termasuk dalam mereka yang mampu menghidupkan imajinasi.

Tulisan oleh Safirina Febrianti

Foto : Tim dokumentasi Relawan BBN Etape Madura

Mengenalkan Pusat Literasi Membaca dengan Cara yang Menyenangkan

Mengenalkan Pusat Literasi Membaca dengan Cara yang Menyenangkan

Indonesia merupakan sebuah bangsa yang besar. Betapa tidak, dengan bentang alam yang demikian luas serta dianugerahi oleh sumber daya alam yang beraneka ragam, Indonesia ibarat sebuah bangsa dengan paket yang komplit.

Namun di samping itu semua, tentunya sumberdaya manusia lah yang memegang peran penting dalam menjaga dan memanfaatkan anugerah Tuhan atas alam Indonesia yang demikian kayanya. Man behind the gun, tentunya menjadi salah satu tolok ukur pembangunan itu sendiri.

Dalam mendukung pembangunan Insan Indonesia yang cerdas-cendikia, selain institusi pendidikan berkualitas serta tenaga pengajar yang profesional dan mumpuni, peran tempat-tempat literasi menjadi rangkaian yang tak dapat dipisahkan guna melahirkan manusia-manusia Indonesia yang cerdas-cendikia dan berwawasan lingkungan.

Sesuai hasil penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia berada tepat di bawah Negara ASEAN lainnya, Thailand yang menduduki peringkat 59. Padahal dari segi infrastruktur untuk mendukung kegiatan membaca, Indonesia boleh dibilang berada di atas Negara-negara Eropa. Sesuai pernyataan Menteri Pendidikan Indonesia (2014-2016), Anies Baswedan, yang disadur dari salah satu media daring, Indonesia bahkan berada di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan.

Beberapa penyebab kurangnya minat baca, salah satunya informasi tentang keberadaan pusat-pusat literasi yang kurang tersosialisasi dengan baik. Mengatasi hal tersebut, salah satu komunitas yang menamakan dirinya Makassar Menyala, baru-baru ini berinsiatif memperkenalkan tempat-tempat literasi baca melalui cara yang menyenangkan.

Acara yang bertajuk Running Book 2016 ini mengambil konsep site tour yang dibungkus dengan permainan ala pencarian harta karun serta permainan yang seru di setiap taman baca atau pusat literasi yang dikunjungi. Acara ini diikuti kurang lebih 70 orang yang dibagi kedalam 6 kelompok dihelat pada 17-18 Desember 2016.

Peserta Running Books 2016
Peserta Running Books 2016

Masing-masing kelompok dibekali dengan peta dan juga clue dari panitia untuk mengunjungi pusat literasi dan taman baca yang telah ditentukan. Total 18 taman baca yang terdiri dari Café Baca, Taman baca Kelurahan, hingga Perpustakaan Daerah menjadi lokasi yang harus dituju oleh para peserta. Masing-masing tempat memiliki poin tersendiri ketika berhasil dikunjungi oleh masing-masing kelompok. Selain itu terdapat poin tambahan tersendiri jika kelompok tersebut berhasil menyelesaikan tantangan seru yang ada di setiap lokasi.

Peta pusat literasi yang harus dikunjungi oleh peserta
Peta pusat literasi yang harus dikunjungi oleh peserta
photo_2016-12-19_09-44-21
Rangkaian permainan seru dan menyenangkan di setiap lokasi
whatsapp-image-2016-12-19-at-4-03-13-am
Peserta mengunjungi salah satu pusat literasi

Hal ini menjadi menarik dan bermanfaat, karena secara umum para peserta belum pernah mengunjungi hampir semua tempat yang ditentukan oleh panitia, sehingga dapat memberikan informasi bahwa ternyata di sekitar kita terdapat tempat-tempat literasi baca yang cukup baik serta memiliki koleksi yang dapat dibilang cukup untuk menambah wawasan bagi para peserta dan warga sekita pusat literasi tentunya.

Tim pemenang Running Books 2016
Tim pemenang Running Books 2016

Tentunya banyak cara, yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia, dengan cara menyenangkan seperti Running Book ini ataupun event menyenangkan lainnya. Harapannya ialah, dengan tingginya minat baca, setiap generasi bangsa ini siap menghadapi tantangan yang tentunya semakin kompetitif yang kini sudah tersaji di depan mata.


Tulisan oleh : Lanang Prayogo

Gambar : Dokumentasi pribadi dan Panitia Running Books 2016

BBN Camp 2016 : Tumbuhkan Jiwa Korsa, Menebar Manfaat kepada Sesama

BBN Camp 2016 : Tumbuhkan Jiwa Korsa, Menebar Manfaat kepada Sesama

“Jika emas diukur dengan karatnya, maka manusia diukur dengan manfaatnya”.

    Ungkapan tersebut rasanya tepat digunakan untuk menggambarkan ruh membakar semangat yang ada di dalam dada setiap Relawan BBN. Menebar manfaat kepada anak-anak bangsa yang kurang beruntung adalah nafas dari setiap aktivitas para relawan meskipun dengan hal sekecil apapun.

       Di penghunjung tahun 2016 ini, BBN Sekar Telkom kembali mengadakan kegiatan yang bertajuk BBN Camp 2016. Seperti pada kegiatan BBN Camp sebelumnya, pada tahun ini  kembali dilaksanakan di alam terbuka yang berlokasi di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.  Kegiatan yang bertujuan menajamkan rasa saling berbagi, menanamkan semangat barbakti kepada bangsa, serta menumbukan rasa solidaritas dan semangat kebersamaan ini dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 10-13 November 2016. Adapun yang bertindak sebagai fasilitator, NTOTC (National Tropical Outdoor Training Centre) Wanadri kembali dipercaya sebagai fasilitator terbaik untuk melaksanakan kegiatan di alam terbuka.

      Rangkian acara diawali oleh sharing session oleh Ketua Sekar dan Deputy SGM TCUC pada hari Kamis 10 November 2016 selepas rehat siang. Kemudian dilanjutkan berturut-turut oleh komunitas Sedekah Rombongan dan materi kerelawanan yang dibawakan oleh perwakilan dari Yayasan Indonesia Mengajar. Seluruh peserta tampak antusias dalam mengikuti kegiatan sharing session ini.

Ketua Sekar Memberikan Sambutan
Ketua Sekar Memberikan Sambutan

    Setelah rangkaian acara sharing session selesai kegiatan dilanjutkan dengan briefing yang dibawakan oleh NTOTC Wanadri. Kegiatan ini berisi bagaimana merencanakan sebuah perjalanan, dimulai dari perbekalan dan perlengkapan yang harus disiapkan, bagaimana mengemasi barang bawaan, serta titik yang akan dituju dalam sebuah perjalanan.

Fasilitator menjelaskan mengenai peralatan yang akan digunakan
Fasilitator menjelaskan mengenai peralatan yang akan digunakan
skr_9492
Salah satu peserta membantu peserta lainnya menggunakan peralatan outdoor

        Sedikit berbeda dengan BBN Camp sebelumnya, kali ini, disamping berkegiatan di alam terbuka, pada hari pertama BBN Camp ini  juga dirangkaikan dengan Mini Etape. Maka dari itu sebanyak 47 peserta yang terdiri dari 25 laki-laki dan 22 perempuan dibagi menjadi 5 kelompok bertugas menyiapkan dan mengantarkan sekitar 1200 buku ke enam Sekolah Dasar  di Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta. Rangkaian acara dihari pertama diakhiri dengan kegiatan berfoto bersama dan dilanjutkan dengan istirahat guna mempersiapkan tubuh agar dapat memulai esok pagi dengan bugar dan penuh semangat.

Para peserta mempersiapkan buku yang akan dibagikan ke sekolah dasar
Para peserta mempersiapkan buku yang akan dibagikan ke sekolah dasar
skr_0009
Kegiatan diawali dengan berdoa

       Mentari pagi bersinar cerah di hari Jumat 11 November 2016, hari dimana para peserta BBN Camp memulai aktivitas luar ruang. Setelah diawali dengan berdoa dan berfoto bersama, kegiatan selanjutnya ialah menuju ke enam sekolah yang telah ditentukan sebelumnya oleh fasilitator.

Peserta BBN Camp 2016 melakukan sesi foto bersama
Peserta BBN Camp 2016 melakukan sesi foto bersama

      Seluruh peserta menuju titik nol, yaitu Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, menggunakan truk TNI. Setelah tiba di titik nol, masing-masing kelompok diminta menuju Sekolah target donasi secara mandiri tanpa bantuan dari fasilitator, mulai dari mempersiapkan transportasi hingga berkomunikasi langsung dengan pihak sekolah terkait teknis pelaksanaan penyerahan buku.

skr_0023
Rombongan peserta BBN Camp 2016 bersiap menuju ke titik nol

        Tak hanya sekadar mengantarkan buku, para relawan BBN juga membagi kisah inspirasi dan motivasi ke siswa-siswi masing-masing sekolah. Tujuannya sederhana, agak tak takut bermimpi dan berani bercita-cita serta berusaha meraihnya sekuat tenaga dimulai dari membaca buku.

skr_0112
Penyerahan buku kepada pihak sekolah
skr_0152
Memberikan tantangan kepada salah satu siswa untuk berani bercerita di depan kelas
skr_0178
Berfoto dengan siswa-siswi salah satu sekolah yang mendapat donasi buku

      Selepas mengantarkan sekoci buku ke enam sekolah dasar, para peserta bergerak menuju titik kumpul pertama, di depan Kantor Desa Pesanggrahan. Di titik kumpul pertama ini para peserta dibagikan logistik serta peralatan memasak, serta natura makan siang untuk setiap kelompok.

    Seusai melaksanakan ibadah sholat jumat dan santap siang, peserta kemudian diarahkan menuju titik camp-1, yaitu Ciawitali yang terletak di punggungan Gunung Burangrang. Seperti sebelumnya, para peserta diminta menentukan sendiri cara dan jalur yang akan ditempuh menuju Ciawitali tujuannya agar peserta dapat berinteraksi dengan warga lokal serta sedikit mempelajari kearifan lokal yang berlaku di daerah tersebut.

skr_0042

     Rupanya hari itu cukup beruntung, para peserta kedatangan teman baru. Seolah menjadi teman perjalanan, hujan turut menemani peserta sepanjang perjalanan, sehingga sedikit memaksa untuk mengenakan jas hujan. Jalur menuju Ciawitali ternyata tidak senyaman jalan-jalan menuju pusat perbelanjaan. Mulai dengan permukaan yang berbatu, jembatan bambu, hingga jalan menanjak yang licin akibat guyuran hujan harus dilalui setiap peserta menuju Ciawitali. Meski begitu, rona ceria bercampur sedikit khawatir menghiasi wajah beberapa perserta.

Hujan mulai turun menemani perjalanan
Hujan mulai turun menemani perjalanan
skr_0345
Jalan terjal yang dilalui oleh para peserta
skr_0319
Peserta diharuskan menapaki jembatan bambu untuk menyebrangi sungai

     Setelah menempuh sekitar dua hingga tiga jam perjalanan, para peserta tiba di Ciawitali. Di titik camp-1 ini para peserta diminta oleh fasilitator untuk mendirikan tenda ataupun bivak yang dapat menampung seluruh anggota kelompok. Tidak ada ketentuan khusus mengenai bentuk, ukuran maupun kapasitas bivak, yang penting dapat melindungi seluruh anggota kelompok dari guyuran hujan maupun dinginnya angin yang berhembus. Alhasil,  tampak bivak dari setiap kelompok memiliki karakter masing-masing.

Mendirikan bivak kelompok
Mendirikan bivak kelompok

    Selanjutnya para peserta diminta untuk mempersiapkan makan malam sesuai selera dan kreatifitas masing-masing. Jangan bayangkan fasilitas memasak seperti di dapur modern pada umumnya yang serba praktis dan mudah. Setiap kelompok yang dilengkapi dua set nesting diminta mampu menggunakan kompor parafin serta mengatur menu makan malamnya secara berkelompok.

      Setelah seluruh peserta melaksanakan santap malam, kegiatan dilanjutkan dengan acara sharing session oleh perwakilan setiap kelompok. Para duta kelompok tersebut diminta menceritakan pengalaman serta nilai-nilai yang didapatkan sepanjang hari tadi. Malam yang dingin sontak menjadi hangat, para peserta tampak terhibur dengan pelbagai kisah dari setiap duta kelompok. Ada yang serius, serta ada pula yang mengundang tawa dari seluruh pendengar. Gelak tawa dari seluruh peserta seolah menghilangkan rasa lelah yang ditimbulkan sepanjang perjalanan sepanjang hari tadi. Seluruh peserta tampak menikmati suasana keakraban pada malam itu. Setelah acara berbagi kisah rampung, acara selanjutnya adalah briefing untuk kegiatan esok, serta dilanjutkan dengan kembali ke bivak masing-masing guna mempersiapkan diri untuk istirahat.

Perwakilan salah satu kelompok mencertakan perjalanan yang telah dilalui
Perwakilan salah satu kelompok mencertakan perjalanan yang telah dilalui

skr_0460Tak terasa pagi telah menyapa Ciawitali di hari itu, Sabtu 12 November 2016. Tampak aktivitas mulai pagi mulai terihat dari bivak parah peserta. Pagi itu, setelah menanggalkan pakaian tidur, para peserta memulai aktivitas pagi, mulai dari mempersiapkan makan pagi dan siang hingga mengemasi kembali flysheet yang digunakan sebagai bivak. Setelah makan pagi dan seluruh perlengkapan telah terkemasi, selanjutnya para peserta mengikuti apel pagi dan mendengarkan arahan untuk kegiatan di hari itu.

      Kegiatan selanjutnya adalah setiap kelompok diberikan misi untuk menuju titik yang telah ditentukan. Oleh Fasilitator, di titik-titik tersebut telah diberi penanda berupa bendera. Setiap kelompok diminta mengambil gambar bendera beserta seluruh anggota kelompok dalam satu bingkai foto. Total 6 bendera yang disebar di dua pos harus masuk berupa gambar ke dalam ponsel pintar ataupun kamera dari perwakilan setiap peserta. Masing-masing titik bendera terletak  di lokasi yang memiliki tantangan tersendiri. Di sinilah dilatih kekompakan, soliditas, serta solidaritas setiap kelompok. Setiap anggota kelompok saling membantu satu sama lain agar dapat menyelesaikan misi yang diberikan dengan sempurna.

photo_2016-11-29_15-15-05
Menuntaskan misi berfoto dengan objek bendera

     Setelah semua titik bendera telah berhasil dikunjungi, peserta bergerak menuju titik kumpul kedua yaitu, Desa Cihanjawar Gunung. Setiba di titik kumpul yang terletak di Aula Desa Cihanjawar Gunung para peserta rehat sejenak sembari melakukan santap siang dan ibadah Sholat Dhuhur bagi peserta yang beragama muslim.

      Setelah rangkaian istirahat selesai, peserta kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini titik camp-2 yang akan dituju berlokasi di bukit Pasir Kutu. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini seluruh kelompok dilebur menjadi satu kelompok besar, sehingga perlengkapan memasak serta bivak yang harus disiapkan pun untuk seluruh peserta.

skr_1143
Peserta membawa perlengkapan kelompok
skr_1174
Medan yang berat serta tambahan beban tak menyurutkan semangat peserta BBN Camp 2016

      Perjalanan menuju ke Pasir Kutu kembali ditemani hujan dan suara petir yang saling bersahutan. Jalan yang dilalui pun tak kalah menanjak dibandingkan dengan perjalanan dihari sebelumnya, hanya saja, beban yang dibawa oleh masing-masing peserta bertambah dari segi berat maupun jenisnya. Ada yang kebagian membawa tabung gas, terpal, kompor, panci, hingga genset, semua bahu membahu membawa perlengkapan kelompok.

      Setelah menempuh perjalanan yang mendaki selama sekitar dua jam, para peserta akhirnya tiba di lokasi Camp-2, Bukit Pasir Kutu. Perasan lega tampak dari wajah setiap peserta yang mungkin tak membayangkan sebelumnya medan serta beban yang dibawa seberat seperti yang mereka rasakan. Lokasi ini memilik tanah yang cukup lapang untuk membangun tiga tenda utama yang memiliki fungsi tempat tidur, kelas dan dapur. Kekompakan dan kerjasama kembali terlihat saat para peserta bahu membahu mendirikan tenda. Setiap peserta tak ada yang diam berpangku tangan, masing-masing mengambil peran sendiri-sendiri. Ada yang mempersiapkan tenda tidur, tenda kelas, tenda dapur, hingga mencari kayu yang digunakan untuk keperluan memasak.

skr_1279
Mempersiapkan bivak

          Kegiatan di dapur pun tampak lebih meriah, layaknya mempersiapkan makanan di Dapur Umum tenda evakuasi, para juru masak bahu membahu menyiapkan makanan yang tentunya sudah mulai diidam-idamkan oleh peserta yang perutnya mulai dilanda rasa lapar. Akhirnya makanan yang dinanti pun telah siap. Para peserta telah lama menanti dengan peralatan makannya masing-masing. Makanan malam itu tampak begitu nikmat dirasakan oleh seluruh peserta. Mungkin karena memang rasanya begitu nikmat serta rasa lapar yang melanda tentunya menambah kenikmatan tersendiri.

skr_1313
Kekompakan tampak saat menyiapkan makan malam

Pada malam kedua ini sharing session diisi oleh pemateri dari Kidzmile Foundation, materi Micro-teaching for Childern and Story Telling Skills yang dibawakan tentunya sangat bermanfaat serta menunjang kegiatan etape BBN maupun tambahan ilmu baru bagi para persert. Rona antusias tampak dari wajah setiap peserta yang mengikuti materi serta pelatihan yang diberikan. Tak kalah seru dibanding malam sebelumnya semua peserta larut dalam gelak tawa dan keseruan materi malam itu hingga tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rasa lelah dan kantuk yang tadi sempat menghilang kini pelan-pelan mulai menghampiri para peserta satu-persatu. Keseruan malam itu akhirnya ditutup oleh briefing dari fasilitator, dan setelah itu para peserta beristirahat di tenda tidur yang telah disiapkan sebelumnya.

skr_1347
Peserta menyimak materi story telling

Keesokan harinya, lamat-lamat matahari pagi mulai menyapa. Dinginnya malam mulai tergantikan dengan hangatnya mentari pagi yang seperti malu-malu bersembunyi dabalik awan. Pagi itu tak begitu cerah, sedikit berawan namun para peserta memulai aktivitas pagi dengan penuh semangat. Minggu 13 November 2016 merupakan hari terakhir kegiatan BBN Camp 2016. Setelah mendapatkan arahan dari fasilitator para peserta mulai bergerak sesuai dengan pembagian tugas masing-masing, mulai mempersiapkan sarapan, mengambil air dan mengemasi perlengkapan pribadi maupun kelokmpok. Menu sarapan pagi itu adalah bubur ayam dan sarden serta ditemani Minuman berperisa jeruk yang oleh beberapa peserta dinamai “DJus DJeruk Tjap Tjihanjawar Goenoeng” yang terbuat dari mata air yang mengalir di kaki Gunung Burangrang. Setelah semua aktivitas sarapan dan berkemas selesai peserta bersiap meninggalkan titik camp menuju kembali ke Desa Cihanjawar Gunung.

Salah satu peserta tampak begitu nikmat menegak Djus Djeruk Tjap Tjihandjawar Goenoeng
Salah satu peserta tampak begitu nikmat menegak Djus Djeruk Tjap Tjihandjawar Goenoeng

Setelah sarapan selesai acara dilanjutkan dengan diskusi secara berkelompok mengenai hal yang ide-ide apa yang dapat diterapkan demi kemajuan Sekar dan BBN sehingga lebih memberikan nilai serta manfaat bagi para anggotanya maupun bangsa Indonesia pada umumnya. Total lima peserta perwakilan dari setiap kelompok memaparkan ide masing-masing. Brilian! Itulah ungkapan yang pantas disanjungkan terhadap setiap ide dari masing-masing perwakilan kelompok. Setiap ide menyiratkan harapan akan kemajuan BBN dan Sekar ke arah yang terus lebih baik.

Perwakilan salah satu kelompok mendapat giliran menyampaikan ide
Perwakilan salah satu kelompok mendapat giliran menyampaikan ide

Setelah rangkaian acara diskusi selesai, para peserta diminta untuk mengemasi seluruh perlengkapan baik pribadi maupun kelompok guna mempersiapkan diri kembali ke Desa Cihanjawar Gunung.

Akhirnya  rangkaian kegiatan BBN Camp 2016 tiba di penghunjung acara, yaitu penutupan. Sambil membawa carrier dan membentuk lingkaran peserta mengikuti kegiatan penutupan dengan khidmad. Hujan yang turun semakin membuat suasana pagi menjelang siang itu semakin syahdu. Setelah mendengarkan kata-kata penutupan yang dibawakan oleh fasilitator dan salah satu Pembina BBN, akhirnya kegiatan BBN Camp 2016 resmi ditutup.

skr_1621
Suasana khidmat menyelimuti pada saat penutupan BBN Camp 2016

       Banyak pembelajaran serta nilai yang dibawa pulang oleh masing-masing peserta yang dapat memupuk semangat Nasionalisme dan tekad untuk memberikan karya terbaik bagi bangsa oleh setiap peserta BBN. BBN camp selalu menyisakan kenangan manis tersendiri dihati para peserta./pryg

Tulisan oleh : Lanang Prayogo

Foto : Dokumentasi BBN

BBN Camp, Deputy SGM TCUC: Social Need Orientation Adalah Esensi Kehidupan

BBN Camp, Deputy SGM TCUC: Social Need Orientation Adalah Esensi Kehidupan

BaktiBagiNegeri

Pada hari Kamis (10/11), Deputy SGM Bambang Budiono, SM WINS Academy Fadchi Nizar dan Manajer LDE Sudarmadji mendatangi kegiatan yang diadakan oleh SEKAR TELKOM (Serikat Karyawan Telkom) yang bertempat di Ged.Indihall di Kampus TCUC. SEKAR Telkom memiliki aktifis yang berorientasi pada kegiatan­ kegiatan sosial yang lebih dikenal dengan nama Bakti Bagi Negeri (BBN).

Dalam arahannya Deputy SGM TCUC Bambang Budiono (Bambu) menyampaikan bahwa “Biasanya, orang yang sudah berada di level Senior Leader, tidak punya waktu untuk melakukan hal­-hal yang berbau sosial. Maka dari itu, saya terapkan ilmu sosialnya yang dimiliki oleh SEKAR, dan dimasukan ke kurikulum SUSPIM Leadership Program. Nama mata kuliahnya itu adalah social need orientation, esensi dari social need orientation adalah bahwa merupakan suatu kebutuhan mendasar seorang manusia untuk berbuat bagi masyarakat banyak,” papar Bambu.

2016-11-15_18-51-22Bambu merupakan orang yang mempunyai andil besar dalam organisasi ini, kalau dihitung, mungkin lamanya kurang lebih seumur dengan SEKAR ketika di bentuk. Hingga saat ini Bambu masih menjadi pembimbing SEKAR.

Pesan Bambu dalam arahannya kepada para peserta yang mengikuti camp ini adalah “Pahami benar bahwa artinya anda hidup itu adalah kebutuhan anda untuk berbuat bagi orang banyak, apalah artinya hidup apabila kita tidak bisa berbuat banyak untuk orang lain. Maka manfaatkan betul kegiatan ini, yakinlah bahwa kegiatan ini positif, selamat ber­camp ria, semoga kegiatan camp ini memberikan manfaat untuk kita semua.” Pesan Bambu dengan penuh arti.

2016-11-15_18-53-28

Kemudian dalam kesempatan kali ini perwakilan dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, Dimas Sandia, akan memberikan materi mengenai manajemen kerelawanan. Karena Indonesia Mengajar banyak sekali mengelola relawan dan ingin berbagi ilmu dengan baktibaginegeri.org.

Dilanjut dengan sharing mengenai bagaimana caranya mengelola relawan dengan baik. “Pendekatan selama ini yang banyak terjadi adalah umumnya bersifat project dan menyerang aktor secara parsial,” ujar Dimas sebagai kalimat penutupnya.

Ikuti Basic Survival Training, Pegiat BBN Akrabi Rimba Tropis Ranca Upas

Foto 1Guna mendukung “Gerakan Setengah Juta Buku untuk Anak-Anak Indonesia” Bakti Bagi Negeri (BBN) Sekar Telkom bekerjasama dengan HCC, Telkom CorpU, dan NTOTC Wanadri menyelenggarakan kegiatan pelatihan “Basic Survival dan Communication Skill” atau BBN Camp 2013. Kegiatan pelatihan dengan konsep outbond ini diikuti oleh para pegiat, relawan, juga pengarah BNN selama 3 hari di Kampung Cai Ranca Upas, Ciwidey, Kabupaten Bandung pada 6- 8 Desember 2013.

BBN Camp 2013 dibuka Ketua 1 DPP Sekar Telkom Dedy Ristanto yang mewakili Ketua Umum DPP Sekar Telkom. Hadir pula mewakili SGM HCC Wawan Setiawan selaku OSM HR Partner 5 Telkom dan seorang perwakilan Learning Event Area III.Wawan Setiawan dalam sambutannya mengungkapkan kekagumannya terhadap program Bakti ini.

Keep reading →

Kilatan Bola Mata Optimis Anak-anak Negeri Kutemui Di Lebak Banten

Siang yang terik itu akhirnya membawa kami ke suatu desa terpencil yang ada di Republik ini, tepatnya di Desa Mayak, Kecamatan Curug Bitung, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Setelah memarkir rombongan mobil di sebuah pekarangan penduduk, Tim BBN Sekar Telkom yang terdiri dari Sekjend DPP Sekar Telkom, Asep Mulyana, Steering Commitee BBN Sekar Telkom, Bunda Titoet, Mas Sihmunadi, Mbak Atik Masyani, serta Relawan BBN Sekar Telkom, Dewi Juwita, Willy Arief Yudhistira, Hani Buntari, dan Hadary Mallafi, akhirnya berjalan kaki menuju SDN 2 Mayak dengan melewati jembatan gantung.  Jembatan gantung ini merupakan penyeberangan satu-satunya yang menjadi jalan akses penghubung antara warga di lingkungan SDN 2 Mayak dengan daerah di luar lokasi tersebut. Dapat dibayangkan, jika tanpa jembatan itu, akses keluar masuk akan ditempuh melalui jalan melingkar yang cukup jauh.

Keep reading →