Namanya Erik Saputra, dan Ia Ingin Sekolah di Seberang

“Eyen kecil sangat suka membaca. Buku apapun ia baca. Namun, kondisi ekonomi membuat Eyen kecil tidak bisa bebas membaca buku yang ia inginkan. Pernah suatu hari, Eyen kecil diusir ketika membaca buku di suatu toko. Eyen kecil sedih, tentu saja. Apa salahnya dengan membaca buku hingga harus di usir? Sejak itu, eyen kecil bertekad, suatu hari nanti tidak boleh ada lagi anak Indonesia seperti eyen kecil. Mereka harus bisa bebas membaca buku”

Saya, tiga detik terdiam sambil mendengarkan, lalu meng-aminkan doa Eyen kecil.

***

Senin, 27 Maret 2017, pukul 06.00 WIB Tim Etape Ogan Ilir bersiap menuju dua sekolah dasar, SDN 04 Desa Sarang Lang Kecamatan Pemulutan Barat dan SDN 03 Desa Cahaya Marga Kecamatan Pemulutan Selatan, keduanya berada di  Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Berjumlah 12 orang dan menggunakan tiga mobil, Tim Bakti Bagi Negeri Etape Ogan Ilir siap mengantarkan 1.086 buku bacaan dari BBN dan 160 bantuan tas sekolah dari Sekar Witel Sumsel. Perjalanan  darat yang hampir 2,5 jam dan 30 menit perjalanan sungai kami lalui dengan bersemangat sambil membahas games apa yang akan kami sampaikan ke mereka.

 

persiapan keberangkatan

Bukun donasi yang akan disalurkan

Jalan yang kami lalui tidak bisa dikatakan bagus,  tanahnya liat berwarna merah, lobang jalan di sana-sini, kanan kiri jalan berjejer pohon pisang yang tidak sengaja tumbuh di tanah rawa yang sepertinya bekas persawahan padi. Jalannya sangat sempit,  jika ada mobil berpapasanan saja, salah satu mobil harus berhenti dan membiarkan mobil lainnya untuk jalan. Saya membayangkan, betapa hanya berjarak 2,5 jam saja begitu berbeda pembangunan negara ini, jika di pusat kota Palembang sedang hiruk pikuk pembangunan Kereta Api cepat dan persiapan megahnya Asian Games 2018, di desa Sarang Lang ini penduduknya masih akrab dengan mandi di sungai dan jalannya yang berlobang.

 

 

Tiba di SDN 04 Desa Sarang Lang, anak-anak menyambut antusias. Semua anak rebutan untuk membantu mengangkat kardus berisi buku, tas sekolah bagi satu-satu. Kami pun dijamu, seperti layaknya tamu dari kota yang datang ke desa. Kepala sekolah dan ketua adat mengucapkan terimakasih tak terhingga atas bantuan buku dari BBN. Harapan mereka, buku-buku baru ini bisa membantu siswa-siswa untuk lebih suka membaca.

Sambutan pengurus Sekar Telkom

Perjalanan di lanjutkan ke SDN 03 Desa Cahaya Marga, setelah 30 menit melalui anak sungai Musi, kami tiba di lokasi. Yang pertama saya tanya kepada guru di sekolah adalah : “maap pak, saya bisa numpang charging HP?” . Bertanya listrik tentu saja, perut boleh lapar karena sudah siang, tapi Socmed harus tetap update berita supaya hati senang.  Sayangnya pertanyaan saya di jawab tegas :

“disini belum ada listrik Bu, apalagi internet, PLN belum masuk ke lokasi sini”.

Saya sedih, makin sedih ketika melihat hampir semua pintu kelas rusak yang konon katanya sering dibobol maling. Bingung juga, mau maling apa lagi mereka di lokasi SD yang udah reyot seperti itu. Belum lagi jendela kelas yang tidak ada kacanya, melihat ke jendela artinya bisa melihat langsung hutan lepas, banyak monyet  katanya di hutan itu.

 

Perjalanan menuju SDN03

 

 

Serah terima buku sudah di lakukan kepada kepala sekolah dan ketua adat, lanjut kelas merah putih. Buku-buku sengaja kami letakkan di luar kelas, anak-anak dipersilahkan untuk mengambil buku yang mereka inginkan. Siswa antusias, setiap tangan berhasil meraih beberapa buku hingga buku habis, lalu mereka duduk di teras kelas. Semua bergumam,suara mereka mengeja huruf di buku, gumam kecil tapi sangat riuh di telinga. Entah kenapa ada harapan mengalir di hati ini. Ahh, teruslah membaca dik, buku-buku itu akan menuntun kalian hingga sukses.

 

Erik Saputra namanya, siswa kelas 4 SDN 03, tempat kami mengirimkan buku. Ketika acara resmi serah terima  dikelas, ia sibuk membanggakan buku tabungan ke temannya, jumlah tabungannya Rp.385.000 yang ditabung selama setahun melalui wali kelas. Moment itu ditangkap oleh salah satu relawan. Di Kelas merah putih, kami uji nyali Erik untuk bercerita di depan kelas menceritakan buku tabungan dan buku yang dia baca. Dia diam, malu sepertinya, berbeda sekali dengan semangatnya bercerita di belakang kelas. Ia mulai bercerita ketika hanya bedua saja dengan relawan.

“Erik cita-citanya mau jadi apa?”

“Mau jadi polisi”

“Nanti kalo SMP mau sekolah di mana?”

“Di seberang (sambil menunjuk ke seberang sungai)”

Obrolan berlanjut sampai akhirnya ia di panggil temannya. Sungguh matanya sangat berbinar menceritakan buku tabungan dan cita-citanya. Mata yang sangat yakin bahwa cita-citanya pasti akan tercapai untuk menjadi polisi. Kami ikut meyakinkan jika ia pasti mampu jadi polisi. Terus membaca ya dik, lihat dunia lewat buku. Supaya erik dan teman-teman erik punya cita-cita yang makin tinggi, mampu menyebutkan kota yang berada di seberang bukan hanya menyebutnya “daerah seberang”, bercerita dengan penuh percaya diri di depan kelas dan orang banyak, sekolah tidak hanya di seberang desa, tapi juga di seberang negara. Ada namanya negara Amerika di sana yang lebih besar lagi, dik.

 

Kelas merah putih selesai, semua anak-anak senang, bersemangat sekali mereka kembali membaca buku, bahkan ada beberapa siswa yang menanyakan apakah boleh buku tersebut di bawa pulang 🙂

Balik lagi ke eyen kecil, eyen kecil inilah yang saat ini menjadi inisiator Program Bakti Bagi Negeri, menjadi salah satu relawan, ikut membagi buku dan mewujudkan satu persatu mimpi-mipi anak negeri lewat buku. Eyen kecil sekarang sudah bisa menularkan semangatnya kepada anak-anak negeri. Tidak ada kata tuk berhenti, tekad itu masih menyala, tekad menebar buku berkualitas bagi anak-anak di pelosok negeri. Untuk melihat senyum mereka yang lebih cerah, secerah warna-warni buku yang kami antarkan.

 

Ditulis oleh : Ledy Caroline, Relawan BBN Sumsel

Foto oleh : Tim Dokumentasi BBN

Leave a Reply