BBN Etape Madura : Cerita dari Tanah Gili

Jumat, 24 Februari 2017 dua puluh orang tim relawan BBN Regional 5 tengah bersiap-siap melaksanakan etape di Kepulauan Madura. Tiga sekolah dasar yang menjadi tujuan etape kali ini adalah SDN 1 Gedugan, SDN 1 Bancamara, SDN Aenganyar. Ketiga sekolah tersebut terletak di dua pulau yang berbeda, SDN 1 Gedugan dan SDN Aenganyar terletak di pulau yang bernama Gili Genting, sedangkan SDN 1 Bancamara terletak di pulau yang bernama Gili Iyang. Tiga tim dibentuk untuk masing-masing sekolah, kebetulan saya kebagian tim di SDN 1 Gedugan yang berjumlah total lima orang.

Perjalanan menuju SDN 1 Gedugan dimulai saat kami tiba di dermaga gili genting pukul 08.00. Kami dijemput oleh mobil pikap untuk menuju SDN 1 Gedugan yang yang membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari dermaga.

Sekitar pukul 08.30 WIB kami tiba di SDN 1 Gedugan, sesampainya di sana kami disambut oleh para guru dan riuhnya adik-adik yang antusias akan kedatangan kami membawa banyak tumpukan buku-buku. Bahagia dan haru rasanya.

Sebelum memulai acara kelas merah putih yakni acara inti relawan untuk mengajar dan membagikan buku kepada adik-adik SDN 1 Gedugan, kami melakukan prosesi singkat penyerahan buku dan alat olah raga dari Telkom yang diwakili oleh GM Witel Gema Bapak Wasito Adi kepada Wakil Kepala Sekolah SDN 1 Gedugan Bapak Ahmad Rifai. Turut hadir Bapak Yanto selaku kepala UPT Pendidikan kecamatan Gili Genting.

Dalam sambutannya Beliau mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya kepada PT. Telkom Indonesia atas program BBN ini yang  telah menyentuh pendidikan di daerah-daerah pedalaman seperti SDN 1 Gedugan ini. Dalam sambutan GM Witel Gema, Bapak Wasito juga menyampaikan harapannya semoga dengan program BBN ini bantuan yang sedikit dari Telkom dapat memberikan manfaat yang banyak untuk pendidikan di pelosok negeri.

photo_2017-02-26_11-55-06

Prosesi penyerahan buku

????????????????????????????????????

Setelah prosesi penyerahan bantuan secara simbolis, acara dilanjut di dalam ruang kelas bersama adik-adik, acara ini kami beri nama Kelas Merah Putih.

“Merah Putih!!”,suara itu begitu nyaring dan kompak terdengar di telinga kami  saat kami meneriakkan kata “Indonesia”. Ya, itu adalah suara adik-adik SDN 1 Gedugan yang sangat bersemangat mengikuti kelas merah putih ini.

????????????????????????????????????

Sebelumnya kami membagikan bendera merah putih yang terbuat dari plastik dengan aturan main yakni jika kami menyebut Indonesia, mereka harus menjawab Merah Putih. Itu cara kami untuk mendapatkan perhatian tidak kurang dari enam puluh orang anak-anak SD kelas satu sampai kelas enam apabila suasana mulai gaduh.

Berbagai hadiah kami siapkan untuk mereka yang berani maju dan menceritakan cita-citanya. Ada yang ingin menjadi guru, pilot, dokter, hingga ustadz. Wow..luar biasa. Kami meminta mereka untuk tulis cita-cita itu pada sebuah kertas stiker yang kami siapkan.

Kertas itu akan mereka tempelkan pada kain yang  diberi nama “Dinding Asa”. Apa yang mereka tulis dan tempel di dinding asa akan menjadi pengingat acap kali mereka malas belajar, karena untuk menjadi apa yang mereka cita-citakan kuncinya cuma satu yaitu tidak boleh malas belajar. Pesan itulah yang coba kami sampaikan pada sesi ini.

Fir5Fir6

FIr7

Setelah mengajak adik-adik untuk berani bercita-cita, kami mengajak mereka untuk bermain. Permainannya adalah menyusun puzzle. Puzzle ini bukan sembarang puzzle karena di dalam puzzle itu ada harta karun yang harus mereka temukan di salah satu lokasi yang tergambar di puzzle. Tidak butuh waktu lama untuk menyusun kepingan puzzle yang bergambar halaman sekolah mereka.

Sungguh anak-anak yang cerdas. Dalam waktu kurang dari 3 menit saja mereka mampu menyelesaikan susunan puzzle itu dan Voila… mereka pun langsung dapat menemukan letak harta karun itu. Mereka berbondong lari menuju tempat harta karun itu berada. Ya, tumpukan buku seberat kira-kira 10 kilogram adalah harta karun nya. Diangkat ramai-ramai oleh mereka untuk dipindahkan dari pojok halaman ke tengah halaman tempat menyusun puzzle tadi. Kompak sekali.

Fir2Fir4

Memecahkan puzzle dan menemukan harta karun

Buku pun kami buka dari bungkusan dan kami bagikan satu per satu kepada mereka. Berebut? Sudah pasti, khas anak-anak. Untuk menyiasatinya kami minta mereka berlomba untuk membuat barisan. Siapa paling cepat baris dan rapi, itu yang mendapat buku pertama kali.

Setelah buku dibagi, mereka kami minta untuk berjanji membaca buku itu. Tidak hanya buku itu saja sebetulnya, esensinya adalah kami ajak adik-adik untuk gemar membaca buku apapun yang bisa menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Janji itu dituliskan dalam sebuah kain Komitmen Membaca yang berbunyi “Kami siswa-siswi SDN Gedugan 1 berjanji untuk rajin membaca buku dan berani untuk menggapai cita-cita demi membangun Indonesia yang lebih baik”. Cap tangan adik-adik merupakan wujud komitmen mereka dalam selembar kain iniFir9

Tak kurang dari dua jam kebersamaan kami dengan adik-adik SDN 1 Gedugan membuat perasaan haru, senang, dan sedih bercampur. Haru melihat sambutan yang begitu hangat dari para guru dan adik-adik, senang karena bisa berbagi sedikit keceriaan, sedih karena harus meyudahinya.

Fir13

“Jika melek aksara telah menjadi hal biasa, minat baca adalah hal yang istimewa. Sekadar mengeja telah menjadi kebiasaan namun gemar membaca adalah keistimewaan. Meningkatkan minat baca memang tak gampang, berbagai kendala banyak menghadang. Budaya menonton kian merajalela, sosial media lebih menggoda ketimbang pustaka. Buku-buku memang terus diproduksi tapi tak serta merta meningkatkan literasi. Belum lagi persoalan distribusi, buku-buku sulit diakses mereka yang terisolasi.Perpustakaan hanya diisi diktat dan kisi-kisi. Sedikit yang bisa menghidupkan imajinasi. Terpujilah mereka yang gigih sebarkan bahan bacaan kepada mereka yang haus ilmu pengetahuan. Mereka lah yang menyodorkan jendela dunia agar anak-anak dapat berpikir seluas cakrawala. Agar kita menjadi negara maju, menjadi bangsa yang melahirkan penemu”. Kutipan Mbak Najwa Shihab  barusan sekaligus menjadi penutup tulisan saya ini. Di Gili aku berbakti sekaligus membagi cinta dan kasih pada mereka yang jauh dari tempatku berdiri. Semoga sahabat relawan bakti bagi negeri termasuk dalam mereka yang mampu menghidupkan imajinasi.

Tulisan oleh Safirina Febrianti

Foto : Tim dokumentasi Relawan BBN Etape Madura

Leave a Reply