Etape BBN Wonosobo: Berbagi dalam kesederhanaan, Mengguratkan sebaris senyuman.

    Hasrat untuk berbagi kebahagiaan dan cerita kepada adik-adik di pelosok negeri ini masih menggebu-gebu setelah Etape di daerah Purwakarta bulan November silam.  Alhamdulillah, kesempatan itu datang menghampiri saya dan teman-teman Telkomers lainnya di TREG 4. Setelah melakukan survey sekolah, terpilihlah MI Maarif Sirangkel dan MI Maarif Topengan yang berlokasi di Kabupaten Wonosobo – Jawa Tengah sebagai lokasi Etape Bakti Bagi Negeri (BBN) perdana di tahun 2017, dengan jumlah seribu buku yang akan dibagian di kedua sekolah tersebut. Terimakasih atas dukungan para rekan BBN dan Sekar Telkom yang telah memberi “kebahagiaan kecil” untuk adik-adik di sana.

1

     Lima belas pasukan dari penjuru Telkom Regional IV, mulai dari Witel Pekalongan, Kudus, Semarang, Jogjakarta, Solo, Purwokerto dan Magelang akan menjadi pejuang hebat yang siap menebar manfaat. Terharu rasanya melihat semangat teman-teman yang luar biasa untuk acara ini. Antusiasme mereka untuk mengikuti Etape mampu mengalahkan rasa pesimis saya di awal, “Apakah acara ini akan berjalan dengan relawan yang seadanya?” pertanyaan itulah yang selalu muncul di dalam benakku.

  Kepanitiaan sudah ditentukan. Berbagai persiapan telah kami laksanakan. Diantaranya membeli buku yang tentunya harus disesuaikan judul dan temanya. Lalu sepulang kantor kami melanjutkan malam dengan menyetempel buku-buku tersebut, memasukkan ke dalam kardus agar segera kami kemas supaya menjadi lebih menarik. Selain itu, kami juga persiapkan berbagai pernak pernik properti games di sela-sela acara etape. Meskipun lelah, tapi kebersamaan dan semangat menyongsong etape nyatanya mampu mengalahkan semuanya.

5

       Sabtu pagi, 21 Januari 2017. Dengan seragam kaos IndiHome merah khas Telkom, kami segera menuju ke lokasi etape. Sekali lagi, rasa excited kami untuk berbagi kebahagiaan dan bertemu dengan adik-adik di pelosok sana semakin kuat. Perjalanan menuju lokasi etape tidaklah mudah. Maklum, kedua sekolah tersebut berada di kaki gunung. Bahkan desa Sirangkel merupakan desa paling tinggi di wilayah tersebut. Kami harus melewati jalanan terjal yang berliku, dengan pemandangan gunung dan hutan di kanan kirinya. Sebuah bonus yang Allah berikan di awal langkah kecil kami menuju kebaikan hari itu.

6

    Dua tim besar sudah dibagi untuk berkunjung ke dua sekolah secara paralel. Teriakan adik adik kecil berseragam pramuka yang sedang bermain di lapangan saat mobil kami tiba di lokasi terdengar seperti mengombak menyambut kedatangan kami. Segera kami masuk ke ruang kelas yang sudah dipenuhi adik-adik kelas 4, 5 dan 6, adik-adik kecil yang masih polos. Rangkaian acara pun berjalan dengan baik sesuai rencana. Mulai dari pembukaan, penyerahan buku secara simbolis dari perwakilan tim relawan kepada kepala sekolah, lalu dilanjutkan dengan sesi bagi-bagi buku di kelas sekaligus ‘kelas hening’.

8

     Terlihat senyum sumringah mereka guratkan saat melihat tumpukan buku baru dengan sampul warna warni yang menarik hati di atas meja. Dari binar mata yang mereka tampakkan seperti menyiratkan “rasa haus” akan buku-buku baru yang wangi, yang warna-warni, yang berisi ilmu baru yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya. Dengan sigap, mereka berebut buku favoritnya yang mungkin sudah diincar sejak awal acara. Tumpukan buku di meja pun seketika ludes.

     Setelah agenda bagi-bagi buku, sesi kelas hening pun dimulai. Kelas hening? Ya, sebuah sesi dimana adik adik kami berikan kesempatan untuk membaca buku yang mereka telah pilih, sebelum kemudian tiba giliran mereka bercerita di depan kelas tentang apa yang telah dibacanya. Keadaan dimana ruang kelas begitu hening, sesekali terdengar suara komat-kamit sedang mengeja bacaan yang sayup-sayup. Saat yang mendebarkan pun datang juga. Kesempatan tampil di depan kelas untuk bercerita tak mungkin disia-siakan begitu saja. Meskipun ada yang malu-malu saat bercerita di depan teman-temannya, nyatanya mereka tetap berusaha tampil sebaik mungkin. Semua nampak mendengarkan dengan sungguh-sungguh, ada yang terkantuk-kantuk, ada yang iseng bin jahil dengan teman sebelahnya. Sungguh, berkumpul dengan adik adik kecil ini membuat kami jadi ‘awet muda’ karena selalu ada saja tingkah laku konyol yang membuat kami sakit perut tertawa terpingkal-pingkal.

2

     Setelah 1,5 jam menghabiskan sesi di dalam kelas, tibalah saatnya sesi permainan di luar kelas. Semua adik-adik berkumpul di lapangan. Beberapa permainan berhasil membuat kami semua keluar keringat karena harus berlari kesana kesini dan tertawa geli melihat ekspresi satu sama lain. Meskipun permainan sederhana, tapi nyatanya bisa membuat semua orang happy dan menyatu. Ah sebuah kebersamaan yang indah 🙂

7

3

     Dan tibalah waktu perpisahan kami dengan adik adik di MI Maarif Topengan dan MI Maarif Sirangkel. Kami pun pamit dan tak hentinya berterima kasih banyak kepada pihak sekolah yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk dapat berbagi dengan adik adik melalui buku, cerita dan inspirasi di hari yang indah itu. Semoga apa yang kami bisa berikan kepada mereka dapat menjadi manfaat, dan semoga kesan yang mereka telah hadirkan kepada kami dapat menjadi pengingat, bahwa ‘berbagi itu melegakan’.

Tulisan oleh : Maya Previana Syafitri

Foto : Tim Etape BBN Wonosobo

Leave a Reply