Mengenalkan Pusat Literasi Membaca dengan Cara yang Menyenangkan

Indonesia merupakan sebuah bangsa yang besar. Betapa tidak, dengan bentang alam yang demikian luas serta dianugerahi oleh sumber daya alam yang beraneka ragam, Indonesia ibarat sebuah bangsa dengan paket yang komplit.

Namun di samping itu semua, tentunya sumberdaya manusia lah yang memegang peran penting dalam menjaga dan memanfaatkan anugerah Tuhan atas alam Indonesia yang demikian kayanya. Man behind the gun, tentunya menjadi salah satu tolok ukur pembangunan itu sendiri.

Dalam mendukung pembangunan Insan Indonesia yang cerdas-cendikia, selain institusi pendidikan berkualitas serta tenaga pengajar yang profesional dan mumpuni, peran tempat-tempat literasi menjadi rangkaian yang tak dapat dipisahkan guna melahirkan manusia-manusia Indonesia yang cerdas-cendikia dan berwawasan lingkungan.

Sesuai hasil penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia berada tepat di bawah Negara ASEAN lainnya, Thailand yang menduduki peringkat 59. Padahal dari segi infrastruktur untuk mendukung kegiatan membaca, Indonesia boleh dibilang berada di atas Negara-negara Eropa. Sesuai pernyataan Menteri Pendidikan Indonesia (2014-2016), Anies Baswedan, yang disadur dari salah satu media daring, Indonesia bahkan berada di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan.

Beberapa penyebab kurangnya minat baca, salah satunya informasi tentang keberadaan pusat-pusat literasi yang kurang tersosialisasi dengan baik. Mengatasi hal tersebut, salah satu komunitas yang menamakan dirinya Makassar Menyala, baru-baru ini berinsiatif memperkenalkan tempat-tempat literasi baca melalui cara yang menyenangkan.

Acara yang bertajuk Running Book 2016 ini mengambil konsep site tour yang dibungkus dengan permainan ala pencarian harta karun serta permainan yang seru di setiap taman baca atau pusat literasi yang dikunjungi. Acara ini diikuti kurang lebih 70 orang yang dibagi kedalam 6 kelompok dihelat pada 17-18 Desember 2016.

Peserta Running Books 2016
Peserta Running Books 2016

Masing-masing kelompok dibekali dengan peta dan juga clue dari panitia untuk mengunjungi pusat literasi dan taman baca yang telah ditentukan. Total 18 taman baca yang terdiri dari Café Baca, Taman baca Kelurahan, hingga Perpustakaan Daerah menjadi lokasi yang harus dituju oleh para peserta. Masing-masing tempat memiliki poin tersendiri ketika berhasil dikunjungi oleh masing-masing kelompok. Selain itu terdapat poin tambahan tersendiri jika kelompok tersebut berhasil menyelesaikan tantangan seru yang ada di setiap lokasi.

Peta pusat literasi yang harus dikunjungi oleh peserta
Peta pusat literasi yang harus dikunjungi oleh peserta
photo_2016-12-19_09-44-21
Rangkaian permainan seru dan menyenangkan di setiap lokasi
whatsapp-image-2016-12-19-at-4-03-13-am
Peserta mengunjungi salah satu pusat literasi

Hal ini menjadi menarik dan bermanfaat, karena secara umum para peserta belum pernah mengunjungi hampir semua tempat yang ditentukan oleh panitia, sehingga dapat memberikan informasi bahwa ternyata di sekitar kita terdapat tempat-tempat literasi baca yang cukup baik serta memiliki koleksi yang dapat dibilang cukup untuk menambah wawasan bagi para peserta dan warga sekita pusat literasi tentunya.

Tim pemenang Running Books 2016
Tim pemenang Running Books 2016

Tentunya banyak cara, yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia, dengan cara menyenangkan seperti Running Book ini ataupun event menyenangkan lainnya. Harapannya ialah, dengan tingginya minat baca, setiap generasi bangsa ini siap menghadapi tantangan yang tentunya semakin kompetitif yang kini sudah tersaji di depan mata.


Tulisan oleh : Lanang Prayogo

Gambar : Dokumentasi pribadi dan Panitia Running Books 2016

Leave a Reply