Ketulusan Menjemput Kerelaan Itu Sangat Cantik!

Jangkar belum lagi dilepas, namun ada rasa yang tak sanggup kulepas, menenggelamkan syahdu untuk kami agar tidak saling melepas, membenamkan mata justru membuat rasa itu menari-nari jelas, menetas, hingga rinduku bernas…meretas…

Hari ini adalah hari buku sedunia, saya pun tidak tahu seberapa persen penduduk dunia yang bermilyar-milyar adanya menyadari hari istimewa ini. Buat kami para Relawan BBN, hari ini menjadi saksi bahwa BBN benar-benar ada dan menemui mata air pertamanya di Paser – Kaltim tepatnya di Desa Rantau Panjang – Kecamatan Tanah Grogot Kabupaten Paser.

Waktu tempuh yang kami habiskan selama hampir 8 jam dari Dermaga Kariango – Balikpapan dengan membelah angin di Teluk Kaltim menuju Panajam hingga akhirnya melewati jalan-jalan raya poros propinsi dengan kondisi rusak dan berlubang dimana-mana justru membuat semangat kami untuk menemui anak-anak di Rantau Panjang semakin menggebu. Berkali-kali rasanya kami berpapasan bahkan didahului truk-truk besar pengangkut hasil bumi paling familiar di daerah ini yakni tumpukan kelapa sawit yang memerah bagai biji delima, buah pinang, biji kopi bahkan sekilas seperti biji melinjo. Serupa tapi tak sama dan berbeda rasa !

Berkali-kali juga kutepis rasa kantuk yang membahana luar biasa di deretan jok kedua dalam mobil Innova Hitam bersama 3 pejuang BBN lainnya, Pak Nurul, Kang Sekjend DPP Sekar Telkom, dan Mbak Atik. Faktanya, mata ini seharusnya menemui pulasnya, mengingat semalam drama sortir dan mengepak buku-buku baru memerankan epilognya menjelang sepertiga malam. Kedua mata yang punya hak untuk beristirahat ini justru semakin sulit kututup, manakala kubayangkan binar-binar bola mata anak-anak negri di Rantau Panjang yang akan berkilatan penuh makna dan harap tatkala melihat setumpukan buku-buku baru yang akan kami antarkan di hadapan mereka.

Yaps tepat pukul 11.30 waktu Flexi di kawasan Rantau Panjang, mobil yang mengantar kami akhirnya parkir tepat di depan kantor Desa. Tiba-tiba ada yang mencuri hatiku dan mengalihkan pandanganku, sebatang bambu tua dengan balutan lumut nampak hoyong kekiri yang diujung tiangnya diikatkan Sang Merah Putih yang begitu bersahaja untuk tetap gagah berkibar. Ya, Merah Putih menjadi pertanda bahwa idealisme tetap tegak berdiri di tanah Paser. Suasana hiruk pikuk di dalam Balai Desa, samar-samar menggema terdengar. Bergantian Ibu-Ibu PKK berkerudung, perangkat desa yang berseragam hijau-hijau, menyalami kami. Anak-anak remaja yang tersenyum khas dengan garis senyum yang bisa kutebak, ya, merekalah Pengajar Muda Indonesia Mengajar, menyapa kami dengan hangat. Hmm, sungguh, kelelahan fisik yang mendera kami justru hilang lenyap entah kemana saat kami dihadapkan situasi secair ini. Apakah ini pertanda bahwa siapapun kita, darimanapun asal kita, apapun suku kita, ternyata memiliki “rasa yang sama” karena darah, peluh dan airmata kita memiliki kesamaan yang serupa yakni bertanah air-kan Indonesia, bertumpah darahkan aroma wangi Ibu Pertiwi. Duh, betapa indahnya menjadi bagian dari rakyat Indonesia…

Saya sudah tidak sabar melihat tingkah polos anak-anak negeri di desa ini, seperti apakah potret mereka ? Aha, akhirnya satu persatu, beberapa anak dengan seragam merah putih lusuh beralaskan sandal jepit bahkan ada yang menjadikan tanah merah Paser yang berpasir sebagai alas kakinya kusalami. Kujabat erat tangan-tangan mungil ini, yang telapaknya seakan-akan terpahat memberi tanda bahwa ada ukiran kata terima kasih disana, terima kasih yang mendalam karena telah menjenguk “rumah” mereka. Tiba-tiba saja ada yang memanas di kedua bola mata ini, cepat-cepat kubasuh dengan ujung jilbab kuningku, agar tak satupun orang tahu, bahwa saya sedang menangisi masa depan anak-anak ini, masa datang bangsaku di tanah Paser, entah akan menjadi tangis bahagia atau justru tangis pilu yang tidak berkesudahan, semoga saja tidak. Kuselip doa, semoga mereka tumbuh menjadi anak sholeh dan sholeha yang akan menjadi penyejuk mata dan hati kedua orang tuanya serta mengharumkan nama bangsanya kelak, aamiin…

Tak terasa sekitar 90 menit lamanya acara seremonial penyerahan buku-buku baru akhirnya tuntas juga. Perhelatan sederhana ini ditutup dengan syair Bagimu Negeri yang dilantunkan bersama-sama walau dengan suara parau dan sumbang yang tercekat hingga di kerongkongan dan akhirnya memenggal syair demi syairnya yang tidak tuntas kunyanyikan tapi kusenandungkan dengan syahdu di kedalaman lautan hatiku. Ada wajah-wajah puas dan sumringah, namun ada juga wajah-wajah cemas seolah-olah ini belum cukup ! Tibalah gilirannya kami, Tim BBN bercengkrama leluasa dengan anak-anak muda terbaik di negeri ini. Sungguh ku berdecak kagum akan penampilan mereka yang sederhana dibungkus dengan sikap dan tingkah laku khas orang Indonesia yang begitu santun, tulus serta peduli dengan sekitar. Sambil menikmati daging menjangan yang direndang ditemani acar nanas yang segar, kulahap habis semua yang tersaji di piring putihku, sambil diinterupsi dengan kisah-kisah pendek para Pengajar Muda yang sengaja mereka tuturkan untuk menularkan semangat muda mereka ke kami, Relawan BBN. Kulirik juga piring-piring para Pengajar Muda, bersih tak bersisa, salah satu indikator penting, bahwa setiap nikmat mesti disyukuri keberadaannya. Tak sebijipun butir nasi di piring mereka. Ya, nikmat manakah dari Tuhanmu yang kamu dustakan ?

Kebersamaan ini tidak berakhir disitu, kami lagi-lagi dimanjakan dengan diajak berkunjung ke sebuah rumah sederhana yang dinding dan lantainya terbuat dari papan-papan dengan ukuran lebar yang berbeda-beda. Itulah rumah orang tua angkat Dek Rahmah. Kutemui dan kuciumi punggung tangan Bapak dan Ibu Syamsul, potret orang tua angkat yang sangat bersahaja, namun memiliki hati seluas samudera untuk selalu menampung dan menjadikan rumahnya menjadi rumah pintar bagi adik-adik Pengajar Muda, maupun anak-anak di Desa Rantau Panjang. Belasan mangkuk bakso dan bergelas-gelas perasan air jeruk asli menutup perjumpaan kami di rumah kayu di sore hari itu. Di dalamnya diselingi cerita-cerita berbagi, guyonan konyol ala Pengajar Muda, dan kisah-kisah klasik khas Sekarist. Bahkan lebih dari tiga kali kami Relawan BBN dan para Pengajar Muda bertukar impian untuk sama-sama memastikan memiliki tidur yang menemui bangunnya dengan melihat wajah bangsa ini cerah di kemudian hari. Kondisi negara dengan keberlimpahan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai bagi siapapun jiwa-jiwa yang bercokol di sudut-sudut Republik ini.

Sebelum benar-benar meninggalkan Tanah Grogot, kami sempatkan melewati suasana sore di Paser sambil menghirup aroma sungai Kandilo, denyut nadi Tanah Grogot yang membelah dua kawasan berbeda penghidupan. Kami sengaja mengantar Oka dan Vivin, dua gadis muda yang hebat dan berkarakter, agar dapat sama-sama menyaksikan seberapa derasnya arus sungai membawa mereka ke seberang. Kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana dengan sabarnya Oka menunggu sembari melambai-lambaikan tangan untuk memberi isyarat ke Ibu Angkatnya yang berada di seberang agar segera menjemputnya dengan perahu yang lagi-lagi mesti dipinjam Ibu Tua itu kepada Ketua RT setempat. Kuikuti dari kejauhan samar sosoknya yang berpindah cepat membelah semak belukar hingga akhirnya duduk dengan perkasa di sebuah perahu bercatkan merah jambu. Hanya beberapa saat saja, tanpa perlu gas dan rem, Ibu angkat Dek Oka, sudah tiba di pinggir jembatan sungai Kandilo. Segera kuhampiri sosoknya kusempatkan untuk menyalaminya agar kurasakan betul guratan tangan tulusnya dan menikmati senyum pengabdiannya. Pribadi dengan cap Ibu Angkat yang berela hati membelah arus Kandilo untuk sekedar menjemput seorang anak, yang tidak terlahir dari rahimnya. Sebuah sketsa yang makin membuatku yakin, bahwa ternyata di negeri ini masih banyak, Ibu-ibu negeri yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi yang dengan ikhlas serta tulus melayani tanpa pamrih. Kebaikan dan ketulusan Pengajar Muda diganti Allah Azza Wa Jalla dengan 10 kebaikan dan kerelaan orang-orang di sekitarnya. Ketulusan menjemput kerelaan, cantik !

Nah, saya jadi membayangkan pertunjukan sederhana Ibu angkat Dek Oka dengan Oka dan Vivin di sore itu dapat didianalogkan serta diperankan oleh Pengarah BBN dengan para Relawan BBN, Sekar Telkom dengan anggotanya, Manajemen Telkom dengan karyawannya, guru-guru dengan muridnya, tenaga pendidik dengan anak-anak yang diajarinya, bahkan pemerintah dengan rakyatnya.

Di gugusan Republik BBN, Pengarah BBN kuibaratkan menjadi Ibu Angkat Dek Oka sementara kami Relawan BBN kusimboliskan dengan Oka yang tidak tahu harus mendayung kemana. Karena kami, para Relawan BBN adalah prajurit terendah di Telkom sekaligus new comers di Sekar Telkom yang tidak memiliki cukup ilmu, kalaupun ada yang menguasai “teori” hanya sedikit saja teorinya, hingga akhirnya kami belum mahir mempraktekkan apapun itu. Mungkin tidak semua orang akan setuju dengan pendapat ini, namun yang pasti dan perlu untuk dimaknai bahwa Ibu angkat Dek Oka tidak akan pernah menggengam dayung dan mengayunkannya untuk menakar air sungai, andai Beliau yakin, Oka sudah mahir menggerakkan dayungnya. Ya, junior tetap membutuhkan petunjuk yang bernas dari para senior-seniornya.

Terima kasih tak bertepi buat para senior yang duduk sebagai Pengarah BBN, terima kasih sudah menemani. Apresiasi tak terhingga buat para sahabat relawan BBN, sungai yang akan kita lalui masih panjang, arusnya pun teramat deras, bahkan bisa jadi akan melukai. Namun, berjanjilah, hanya Bakti Bagi Negeri yang menjadi satu-satunya luka yang tidak akan pernah kita akhiri. Terima kasih, sahabat… sudah saling membagi dayung untuk menunggui.

(sesaat sebelum Ferry merapat di Dermaga Kariango, sesaat sebelum meninggalkan 23 April 2012 #sketsaBBNPaser, Neye Irtayake #RelawanBBN)

Leave a Reply