Gerimis Membungkus Peluh dan Air Mata Kami Di Sekadi

Tak ada satupun dari kami, para #RelawanBBN yang mengira akan begitu disambut hangat dan penuh makna oleh masyarakat Desa Sekodi dengan tabuhan kesenian kompangnya yang begitu semarak. Satu persatu dari kami dibuat takjub oleh keseriusan mereka meladeni kami layaknya rombongan pengantin pria yang diarak ramai oleh penduduk kampung menuju rumah pengantin wanita. Wajah dan sikap mereka yang sangat bersahaja menyiratkan isyarat bahwa mereka pun berbahagia penuh suka cita bisa dijumpai sedemikian rupa oleh kami saudara sebangsanya nun jauh disana.

Efek rute perjalanan panjang yang kami rasakan tidak terasa sama sekali. Padahal sejak dua hari yang lalu, masing-masing dari kami harus bertolak dari loker Jakarta, Medan, Pekalongan dan Makassar menuju Pekanbaru. Dari ibukota propinsi Riau ini, kami pun siap tidak siap mesti merasakan akses jalan darat yang diapit hutan kelapa sawit dan karet selama 5 jam untuk sampai di pelabuhan Sungai Pakning. Seperti yang sudah terbayangkan, hasil dari cerita-cerita para @pengajarmuda Bengkalis, bahwa sebagian jalan yang ditempuh ini sedang dalam perbaikan, akibatnya lebih dari 12 km jalan harus ditempuh selama 1 jam waktu tempuh. Membelah Sungai Pakning selama sejam pun kami lakukan dengan bantuan Kapal Roro agar bisa menginjakkan kaki di Pulau Bengkalis. Dan untuk benar-benar merapat di Desa Sekodi ini, kami harus mengalami 4 jam sensasi travelling via darat yang benar-benar menantang secara phisik dan psikis. Tapi itu semua ternyata tidak menyurutkan semangat dan melengkapi misi kami untuk sedikit mengantarkan cerita membagi harapan dihadapan mutiara-mutiara terpendam yang berada di ujung utara Negeri Lancang Kuning.

Belum selesai kami dibuat terkesima oleh dahsyatnya musik kompang yang dimainkan pemuda desa, tetabuhan rebana ibu-ibu Desa Sekodi juga ikut membahana memecah kesunyian dan keasrian aroma desa ini. Nyanyian selamat datang mendayu-dayu syahdu menyapa rombongan kami sembari diselingi  tradisi lempar beras dan pengalungan rantai bunga hasil karya anak-anak Sekodi. Hmm… sungguh skenario apik namun mengalir apa adanya seakan-akan memberi kami pertanda, bahwa kerelaan itu siap mendatangi ketulusan, dan ketulusan siap ditebar oleh kebaikan siapapun makhluk di dunia ini.

Satu persatu persembahan seni unjuk kebolehan masyarakat desa Sekodi ditampilkan dihadapan kami, dari anak-anak hingga lanjut usia semuanya tak mau ketinggalan mengambil peran. Ada tari-tarian melayu, alunan musik rebana, menabuh kompang, bahkan membaca syair berkisah cerita tentang anak durhaka Si Dedap yang konon dikutuk menjadi Pulau Dedap pun tersaji dengan elok penuh haru. Decak kagum diliputi kebanggaan yang dirasakan oleh kami justru semakin menyadarkan kami, bahwa sedikit saja bentuk kerelaan yang kami hantarkan di hadapan masyarakat Desa Sekodi, namun justru dibalas dengan begitu banyak ketulusan dan kesungguhan yang nyata. Kami pun jadi rindu, agar negeri ini, negeriku Indonesia, juga dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang sadar merancang ketulusan, mau menyiapkan kerelaan dan senantiasa ikhlas menabur benih manfaat bagi sesama.

Usai menikmati rangkaian acara yang digelar sederhana di salah satu ruang kelas yang jumlahnya terbatas di SDN 38 Sekodi, kami pun tidak ketinggalan untuk memanfaatkan moment istimewa ini untuk bermain dan bergembira bersama dengan murid-muridnya. Antusiasme anak-anak mengikuti gerak lagu sambil meneriakkan yel-yel SEKAR-SEKAR BBN, makin menyulut semangat kami, bahwa optimisme kemajuan bangsa ini juga nyata dan berada di ruang waktu di kepingan pulau Andalas. Suara nyaring, merdu dan lantang anak-anak memberi gambaran bahwa mereka pun punya cita-cita yang luhur untuk kejayaan bangsa ini.

Sejurus kemudian, tak terasa waktu makin melampaui siang, kami pun lagi-lagi dijamu dan disuguhi hidangan santap siang khas masyarakat Melayu di rumah Bapak Kepala Dusun Tanjung Desa Sekodi. Beberapa ”hidang” tersedia memanjakan lidah dan perut kami yang memang sudah waktunya untuk diisi. Kesempatan ini tidak kami lewatkan begitu saja, setiap ”hidang” lauk pauk yang tersedia berusaha kami habiskan dengan lahap, karena kami menyadari betul masyarakat Sekodi menyajikan ini semua dengan penuh cinta dan pengorbanan yang tidak sedikit. Semoga Allah memberikan mereka rejeki yang banyak dan barokah untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anak mereka, aamiin.

Usai santap siang bersama dengan duduk bersila, kami pun menuju Mesjid Al-Huda Dusun Tanjung yang tidak cukup jauh dari rumah Kepala Dusun untuk menunaikan Sholat Dhuhur berjamaah. Dan akhirnya, agenda silaturahim ini kami tutup di tanjung pantai Sekodi yang berada di ujung utara Pulau Bengkalis. Puluhan murid-murid SD 38 Sekodi kami ajak bermain, bercerita, membagi mimpi dan bersenda gurau sambil menikmati udara sore yang dibungkus aroma ikan asin disana.

Diatas titian papan-papan kayu usang yang membelah hutan bakau itulah, anak-anak Bengkalis menitipkan harapannya kepada kami untuk disampaikan kepada saudara-saudara sebaya mereka yang tinggal di kota. Dibalik lumpur hutan bakau bercampur muara sungai air merah itulah, anak-anak Dusun Tanjung membagi mimpi dan cita-citanya kepada kami untuk dikabarkan kepada tangan-tangan dermawan yang tersebar di penjuru Republik ini. Kamipun meninggalkan Dusun Tanjung Desa Sekodi di tengah lambaian tangan-tangan mungil anak-anak Sekodi dan jabat erat serta peluk hangat dan mata basah masyarakat Sekodi. Kami meninggalkan halaman SDN 38 Sekodi yang menyerupai cermin sempurna sesaat sebelum langit menghitam, tanah merah gambut yang makin becek berlumpur siap membenamkan ban karet dan sepatu-sepatu kami. Kami meringsek maju meninggalkan Dusun Tanjung di tengah-tengah  aroma sawit, karet, serta sagu makin menyatu dibungkus gerimis, peluh dan air mata kami, para #RelawanBBN.

(#EtapeBBN Bengkalis, Neye Irtayake)

Leave a Reply