Etape BBN Bima NTB

Ini yang sudah kesekian kalinya, mataku panas dan sembab setiap melihat langsung antusias anak-anak penghuni negriku, Indonesia di negeri-negeri yang terlupakan, di negeri yang seolah-olah dipisahkan oleh zaman kekinian dan keterbelakangan. Perasaan campur aduk yang tidak karuan ini, lagi-lagi menyeretku saat kumelihat di kejauhan bangunan sederhana SD Oi Marai yang berdiri malu-malu di kaki bukit Gunung Tambora. Apalagi di saat tangan-tangan mungil dengan bau tajam terik matahari melambai-lambai dan menggapai buku-buku baru yang didorong dihadapan mereka. Lengkaplah sudah episode kerelaan menjemput kebahagiaan bersama ketulusan. Satu persatu para guru, orang tua murid, masyarakat desa dan anak-anak Oi Marai menyambut kami dengan senyum sapa hangat dan jabat erat, seolah-olah kami adalah saudara dekat yang pernah bertemu sebelumnya dan baru bertemu lagi setelah sekian lama. Tampak nyata di raut wajah mereka, wajah-wajah teramat lelah yang sudah menunggu kedatangan kami sejak pagi atau bahkan sejak dini hari. Sehingga tidak pantas rasanya, jika kami harus mempertontonkan kelelahan luar biasa yang menyelimuti kami dikarenakan perjalanan puluhan jam yang mesti kami lalui agar kami dapat sampai dan menginjakkan kaki di lembah bukit Tambora.

Yaps, akhirnya kami bersebelas bisa menapakkan kaki disana, di desa yang pasokan listriknya hanya dari pembangkit listrik tenaga air yang sudah hampir rusak, di desa yang dinamai Oi Marai. Menurut cerita, asal kata Desa Oi Marai di Kecamatan Tambora berasal dari bahasa daerah setempat yang berarti air yang berlari . Sesuai dengan cita-cita dan harapan masyarakat desa Oi marai yang senantiasa berlari dan melambung jauh, namun sayang tidak sekencang gerak perhatian dan dukungan infrastruktur dari pemerintah daerah apatah lagi pemerintah pusat. Cikal bakal kehadiran mereka disana adalah dampak dari program buatan pemerintah pusat belasan bahkan puluhan tahun yang lalu, yang mengharuskan kakek nenek mereka tinggal menetap, memberdayakan lahan, sekaligus menciptakan mata pencaharian sendiri untuk harus bersaing dengan saudara mereka sendiri yang sama-sama berada di gelombang pendatang transmigrasi yang berasal dari luar pulau Sumbawa dan Lombok.

Kami pun bisa mahfum menyimak penyampaian sepatah dua patah kata yang disampaikan oleh Kepala SDN Oi Marai saat menyambut kedatangan kami. Deretan cerita panjangnya hanya berisi curahan hati orang-orang yang merasa terbuang, diabaikan dan sama sekali merasa terpinggirkan. Bahkan, saking kerasnya kehidupan di Oi Marai untuk terus bertahan hidup di wilayah itu hanya menyisakan puluhan orang KK dengan dua ratusan jumlah penduduk yang tadinya saat penempatan pertama satuan pemukiman transmigrasi mampu mencapai 300-an KK. Ya, mungkin hanya ada dua alasan yang membuat mereka bertahan yakni kebumi mana lagi mereka mesti gapaikan mimpi dan tidak perlu kemana-mana lagi selain disini karena takdirlah yang memilih mereka utk tetap disana.

Kami pun semakin paham akan alasan-alasan ini karena nyatanya untuk sampai mereguk segarnya oksigen di kaki bukit, berpuluh rintangan mesti siap dihadapi. Dari jalanan yang rusak parah, berlubang disana sini, penuh bebatuan longsor, bahkan aspal yang terabrasi oleh air asin laut. Belum lagi beberapa jembatan kayu yang putus dan kami pun harus menyeberangi sungai tanpa bantuan alat pengaman sedikitpun. Ditambah dengan minimnya nyali sopir dan kendaraan roda empat untuk dapat menembus hutan semak belukar serta membelah padang savanna agar dapat sampai di ujung Desa Oi Marai. Betul-betul perjalanan yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental.

Namun syukurlah, kelelahan yang kami rasakan dapat terbayar oleh penyambutan anak-anak SD dan masyarakat desa Oi Marai yang begitu hangat dan bersahabat. Bergantian dari mereka menyuguhkan nyanyian dan bentuk kesenian-kesenian daerah yang membuat kami tidak tahan untuk mendendangkan lagu dan menggerak-gerakkan kaki, tangan dan kepala kami mengikuti irama gendang yang ditabuhkan dengan semangat. Benar-benar suguhan yang sederhana tapi membawa kesan yang manis dan tak akan terlupakan sampai kapanpun.

Hampir dua jam kami disana dan itu sungguh tidak terasa. Sebelum pulang, salah satu dari anak perempuan berprestasi di SD Oi Marai menghampiri kami dan memberikan sebuah bingkisan lukisan kecil berbingkai kayu yang disketsa crayon dengan gambar gedung sekolah dan latar belakang Gunung Tambora. Sungguh elok lukisan ini dan lagi-lagi membuat suara kami tercekat di kerongkongan dan tak mampu berkata-kata untuk sekedar menyampaikan ucapan terima kasih. Anak perempuan cerdas ini sangat ingin, masterpiecenya terpajang di Kantor Telkom Pusat Bandung, begitulah keinginannya yang disampaikan kepada kami dengan mata berkaca-kaca penuh harap. Terselip doa untukmu Nak,…biar Allah yang menjagamu menjadi orang yang bermanfaat dan menjaga cita-citamu agar tetap tercapai, aamiin.

Waktu jualah yang harus memisahkan kami dengan saudara-saudara baru kami ini. Sedih harus meninggalkan mereka dengan segala keterbatasan. Namun juga bahagia, dapat menemui mereka dengan segala kesahajaan dan segala bentuk kesyukuran. Mereka mampu menyadarkan dan mengajari kami kembali untuk semakin memaknai hidup yang hanya sekali ini. Kami benar-benar terinpirasi dan mendapatkan transferan energi positif dari mereka yang berhati bersih dan bening. Sungguh kebersamaan sesaat dan pengalaman berharga yang tak dapat ditukarkan dengan apapun, dan tak dapat dibeli dengan apapun. Terima kasih sekali lagi untuk anak-anak dan masyarakat Oi Marai, terima kasih sudah bersedia dan berjanji untuk menjaga serpihan hati kami yang sengaja kami tinggalkan disana, di kaki bukit Gunung Tambora….

(Neye Irtayake, #RelawanBBN)

Leave a Reply