Cintaku Diantara Indoneisa, Buku-buku & Anak-anak Indonesia

Buku-buku itu selalu mengusik, merajukku, mengerlingkan mata, bahkan menghadangku untuk membawa dan mengantar ’mereka’ berkenalan dengan anak-anak pelosok di seluruh penjuru Indonesia Raya ini.

Cinta memang butuh pembuktian dan pengorbanan namun tak butuh kata “pamrih”. Bahkan dalam cinta ada “take & give”. Begitulah cintaku pada tanah kelahiran tempatku berpijak, tanah air tumpah darahku, INDONESIA. Begitu pulalah cintaku pada benda tak bernyawa bernama buku, tumpukan kertas segiempat berbungkus kertas tebal yang juga segiempat. Tapi, ternyata buku-buku teramat ”pamrih” menyayangiku, karena cinta yang diberinya kepadaku hanya karena ”keinginan kuat mereka” untuk memiliki kesempatan bercengkrama dengan anak-anak Indonesia nun jauh disana serta untuk sampai di tangan-tangan mungil anak-anak negeri yang ditakdirkan lahir ke belahan bumi jagad raya Indonesia. Karenanya, kini cintaku terbagi-bagi, satu untuk tanah airku, satu untuk buku-buku, yang satunya lagi untuk anak-anak Indonesia dimanapun berada termasuk tiga bidadari kecilku yang pernah bersemayam dalam istana rahimku dan telah melengkapi gelarku menjadi seorang perempuan.

Kenapa buku-buku itu begitu menyayangi anak-anak Indonesia, hingga akhirnya setumpuk buku-buku inilah yang membujukku untuk juga mencintai anak-anak Indonesia ? Bukankah dengan mencintai negri yang subur kaya raya dan tak ada duanya ini saja sudah cukup ? Tak bisa dipungkiri bahwa terlahir menjadi Anak Indonesia, tumbuh sehat dan bersemangat penuh tawa riang bersama sahabat-sahabat kecil adalah nikmat luar biasa yang tak bisa ditukar oleh apapun. Inilah nikmat tak ada tandingnya yang dimiliki anak-anak negeri dengan tanah air yang kaya dan berlimpah akan manusianya, keindahan alam dan hasil buminya, Indonesia Raya.

Kenikmatan menghirup oksigen yang basah oleh embun pagi, kenikmatan menggelar tawa dengan kicauan burung-burung kecil, kenikmatan bertukar aroma wangi dengan warna warni kuncup dan kelopak bunga berbagai bentuk merupakan nikmat yang tak mampu terbayarkan. Kenikmatan mengulum senyum bersama kecipak air oleh lincahnya ikan membelah arus sungai, kenikmatan memandangi gerombolan ikan laut pemecah ombak, dan kenikmatan mengguyur tubuh dengan sejuknya air bening pegunungan juga menjadi nikmat yang mahal di negeri ini. Bahkan nikmatnya membalut telapak kaki oleh hangatnya pasir pantai atau bahkan liatnya tanah merah, mestinya membuat anak-anak di negeri ini senantiasa tersenyum mensyukuri nikmat tak bertepi yang dititipkan Tuhan Semesta Alam kepada mereka.

Itulah sedikit alasan dari sekian juta alasan, mengapa anak-anak Indonesia tak perlu mencari surga bermainnya di belahan dunia manapun atau bahkan harus melintasi bentangan benua dan samudera lain hanya untuk mendapatkan keriangan menikmati indahnya kehidupan. Karena yakinlah, hanya di jagad raya khatulistiwa ini, anak-anak Indonesia akan menjumpai saudara sebangsanya dengan berbagai dialek bahasa Ibu yang beribu-ribu jenisnya, akan bergerak serentak bersama kawan-kawannya dengan gemulai tarian daerah yang indah dibalut hentakan rempak gendangnya, akan bersenandung dengan saudara seibu pertiwi dengan syair kidung alam yang berhiaskan doa dan harapan nenek moyang. Bahkan anak-anak negri akan saling bercengkrama melalui ritme elok adat budaya dengan suguhan beragam tradisi unik yang semakin membuat mereka merasa tertawan dan justru dapat menjadi candu untuk enggan meninggalkan rupa-rupa keadaan ini.

Ya, lagi-lagi sederetan alasan inilah yang selalu menguatkanku untuk terus mencintai Indonesia, mencintai anak-anaknya yang terlahir dari rahim Ibu pertiwi, dan juga buku-buku. Sehingga terus terang saja, akhir-akhir ini, jika kumelihat indahnya tumpukan buku dengan pelangi warnanya yang memanjakan mata, maka akan kuingat pula kilatan cahaya bola-bola mata anak bangsa di ujung pulau terluar negriku. Jika kusaksikan barisan panjang buku-buku yang dipajang di rak buku di toko-toko buku di kotaku, maka ingatanku tiba-tiba melanglang buana membayangkan riuh rendah tawa dalam drama membaca anak-anak negri di kepingan pulau-pulau kecil Indonesia.

Bahkan, hamparan buku-buku inilah yang selalu membayangi pikiranku silih berganti dengan wajah-wajah polos dan cerdas anak-anak Indonesia dimanapun berada. Ingin rasanya setiap saat, kapanpun kumau, maka akan kudorong sekoci penuh buku-buku baru yang masih berplastik kehadapan mereka. Ingin kubagi cerita, cinta, harapan dan semangat meraih cita-cita melalui buku-buku itu. Karena sungguh, tak ada hal istimewa yang bisa kuperbuat untuk mereka, tak ada hal luar biasa yang bisa kupersembahkan bagi mereka, dan tak ada harta yang bernilai yang bisa kusedekahkan untuk mereka, anak-anak masa depan bangsa di sudut-sudut manapun di Republik tercinta ini.

Ya, cukuplah buku-buku itu menjadi penyemangat bagiku, bagi siapa saja yang merindukan keharuman negeri ini. Cukuplah tumpukan buku-buku itu menjadi penggerak mimpi besarku untuk mengumpulkan setengah juta buku dari para relawan berhati malaikat yang juga putra-putri terbaik bangsa ini. Kiranya upaya sederhana nan tulus ini menjadi perekat makna untuk anak-anak Indonesia dimanapun berpijak, sehingga membawa pertanda bahwa kita masih memiliki darah, air mata dan peluh yang sama, semangat serta cita cinta yang serupa maknanya untuk bangsa ini. Kebanggaanku menjadi anak Indonesia juga akan menjadi kebanggaan buat mereka, anak-anak Indonesia nun jauh di pelosok sana. Kebanggaan mereka juga akan membuat bangga anak-anak Indonesia yang berada di dekatku kini, anak-anak yang justru dekat dengan keniscayaan tenggelam dalam lautan buku-buku. Selamat Hari Anak Nasional, Aku Sangat Bangga Menjadi Anak Indonesia!

Kurampungkan sesaat sebelum Hari Anak Nasional beranjak pergi menjelang dini hari, di Makassar di hari ke-23 bulan Juli tahun 2012, Neye Irtayake #RelawanBBN

Leave a Reply