Bung Karno & Buku

Saya dan Beliau terpaut delapan puluh tahun, dan tak ada yg mengira lebih dari seabad lamanya dari tahun masehi saat Beliau dilahirkan, saya baru sempat menapakkan kaki pertama kali di kota kelahirannya sekaligus menziarahi rumah peristirahatan terakhirnya dalam waktu yang bersamaan.

Saat pagi menjelang siang, tepat di waktu yang sama detik-detik teks Proklamasi dibacakan oleh Bung Karno didampingi Bung Hatta pada enampuluh delapan tahun lalu itulah saya justru sudah terseret berada di pelataran depan Kompleks Makam, Museum dan Perpustakaan Jenderal Besar Bung Karno yang berada di Desa Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kabupaten Blitar.

Jelas, saya bukanlah bagian anak keturunan yang sedarah dari Bung Karno, namun mendatangi kampung halaman Beliau, rasa dan getarnya hampir sama saat menyambangi kampung halaman saya sendiri. Ada rasa kangen yang membuncah hingga ke ubun-ubun karena lama tak bersua, ada rasa haru yang membiru hingga tulang sumsum karena baru berjumpa, ada rasa bangga yang membahana hingga ujung urat nadi karena telah mengenal lama.

Dan entah kenapa, tiba-tiba saja lemas kedua lutut ini, terasa panas bola mataku, berasa krenyes di ulu hati ketika pelan-pelan kuturuni anak tangga satu persatu menuju halaman depan yang sejurus kemudian langsung disambut dengan patung kuningan sosok Bung Besar yang gagah dalam posisi duduk tegak sambil memegang buku dan menatap lurus kedepan dan seakan-akan berkata “ Saya komandokan sekarang, supaya buta huruf itu habis sama sekali!!”

Bukan mistis bukan sulapan tanpa diaba-aba, bukan kepo bukan sok Nasionalis namun tanpa diperintah oleh seorang pun, kunaikkan tangan kananku dengan lima jari merapat menyentuh pelipis ujung alis mata kananku, dengan sikap hormat sempurna kusapa Beliau yang kini hanya seonggok logam kuning kehitaman, Assalamu ‘alaikum ya ahlal qubur, yaghfirullahu lanaa wa lakum…

Bukan pula suatu kebetulan, jika dari sekian milyar rekaman gerak tubuh dan kejadian semasa hidupnya, hanya adegan Bung Karno yang sedang membaca buku inilah yang dipilih oleh Arsitek Museum hasil rembukan Sejarawan dan Budayawan Indonesia yang diabadikan menjadi duplikat sosok Bung Besar tanpa nyawa agar dapat menunggui “teras rumahnya sendiri” kini.

Berusaha kusentuh ujung sepatu larasnya yang kini terbuat dari pahatan baja berlapiskan kuningan, sambil berbisik lirih dengan jabat hangat erat dan suara agak berat melekat berusaha kusapa, Apa kabarmu hari ini Jenderal Besar ? Nyenyakkah tidur panjangmu ? Tidakkah kau terusik dengan keadaan bangsamu kini ?

Kami sengaja datang menatap lekat dan dekat pusaramu karena kami ingin meniru caramu mencintai negri ini, walau kami yakin tak mungkin menyamai.

Ijinkan kami menyontek semangatmu membangun negri ini, walau kami tahu pasti tak akan pernah menyerupai.

Perkenankan kami mencontoh sedikit saja keberanianmu berbakti bagi negri, melayani dengan rendah hati lantas tak ingin dipuji, walau yang kami sanggupi hanya membungkusi bukubuku dan menjadi kulinya sendiri untuk diantar ke tangan anak-anak pelosok negri. Maafkan kami jika semai janji ini pun belum juga usai.

Matur sembah nuwun Jenderal !…atas lompatan daya beribu volt yang Kau setrumkan di benak kami kemarin dan hari ini, semoga jadi salah satu bekal kami memaknai hari demi hari untuk berbagi dan berarti…

Sepurane sing akeh Bung !… jika untuk menjagai bangsa sendiri saja kami harus mencari-cari energi sejati dan terkadang bukannya menuai janji malah memilih berhenti dan berteriak lantang sudah selesai…

(kutulis saat benar-benar ingin menjauh dari sorotan- neye irtayake-)

Leave a Reply